KALTIMPOST.ID - Memilih susu formula untuk anak dinilai tidak cukup hanya dengan membaca deretan angka pada tabel nutrisi kemasan. Orang tua kini diimbau lebih cermat memeriksa komposisi utama, asal bahan baku, hingga proses pengolahan demi memastikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi buah hati.
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada kandungan zat tambahan. Hal terpenting yang kerap terlewat justru komposisi dasar dan transparansi sumber bahan baku yang digunakan produsen.
"Dalam memilih susu formula anak, orang tua perlu memahami tidak hanya kandungan tambahannya, tetapi juga komposisi utama dan sumber bahan yang digunakan," kata Prof. Rini dalam keterangannya, yang dilansir dari Journalarta.com, Kamis (10/9).
Baca Juga: Nopol Mobil Bekas Sudah Terdaftar QR Code Pertalite, Jangan Panik! Begini Solusinya
Ia menegaskan bahwa keberadaan susu segar sebagai komposisi utama menjadi indikator penting dalam memilih produk. Selain itu, formulasi yang bersih dari maltodekstrin serta tanpa perisa sintetik patut menjadi perhatian utama para orang tua.
Selama ini, kebiasaan umum pembeli cenderung berhenti pada daftar protein, vitamin, dan mineral di bagian belakang kemasan. Padahal, mutu produk sangat dipengaruhi oleh bagaimana bahan baku tersebut didapatkan dan dirawat sejak awal di tingkat peternakan.
Transparansi Sumber Bahan Baku
Menurut Prof. Rini, pemahaman mengenai rantai pasok dari peternakan hingga fasilitas pengolahan memberi gambaran mutu secara utuh. Informasi tersebut membuat orang tua lebih yakin dan tenang saat memberikan asupan harian bagi anak.
"Setelah melihat langsung prosesnya, saya juga melihat bahwa penjelasan mengenai sumber susu dan bagaimana kualitasnya dijaga sejak peternakan hingga fasilitas produksi sangat penting," tutur Prof. Rini.
Ia menambahkan bahwa keterbukaan informasi dari produsen membantu orang tua menilai produk secara jernih. Standar kebersihan dan perlakuan bahan baku di peternakan menjadi penentu utama higienitas susu.
Salah satu contoh penerapan standar tinggi terlihat pada rantai pasok FEIHE AceKid di kawasan Golden Milk Source 47 derajat Lintang Utara. Fasilitas tersebut mengelola 15 peternakan mandiri dengan populasi sekitar 150.000 ekor sapi perah.
Baca Juga: Bukan Cuma untuk Militer, Mobil Nasional Buatan Pindad Bakal Bisa Dibeli Publik pada Akhir 2028
Pengolahan Cepat Tekan Bakteri
Di area peternakan tersebut, proses pemerahan dilakukan secara otomatis dan terjadwal ketat untuk meminimalkan kontak fisik. Susu segar yang baru diperah langsung didinginkan pada suhu 0 hingga 4 derajat Celsius guna mencegah kerusakan nutrisi.
Cairan susu kemudian dikirim ke fasilitas produksi dalam waktu singkat, yakni sekitar dua jam perjalanan. Sistem rantai dingin yang cepat ini menghasilkan bahan baku segar dengan jumlah bakteri hingga 20 kali lebih rendah dibandingkan batas standar Uni Eropa.
Langkah pengawasan ketat semacam itu membuktikan bahwa mutu produk tidak hanya bertumpu pada formula akhir di pabrik, melainkan berakar dari kebersihan hulu peternakan. Pendekatan ini diharapkan mendorong kesadaran baru bagi konsumen di Tanah Air.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan terbiasa meneliti integritas produk susu formula secara menyeluruh, mulai dari keaslian bahan dasar, ketiadaan bahan aditif sintetis, hingga sistem rantai pasok yang terjaga.***
Editor : Dwi Puspitarini