KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk mengancam wilayah Kalimantan Timur. Menanggapi kondisi ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras kepada orang tua untuk segera melakukan langkah-langkah perlindungan, mengingat anak-anak masuk dalam kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif asap.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dokter Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menegaskan bahwa sistem pernapasan dan imunitas anak yang masih dalam tahap perkembangan membuat mereka sangat rapuh terhadap paparan asap karhutla.
"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan bagi anak dan kelompok rentan," ujar Piprim dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Senin (28/9).
Piprim menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya. Partikel ini berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, dan bahkan diserap masuk ke aliran darah.
“Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya,” tuturnya.
Menambahkan hal tersebut, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, SpA(K), menyoroti bahwa kelompok anak di bawah lima tahun (balita) adalah yang paling berisiko. Selain menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), paparan asap karhutla dapat memicu perburukan akut pada penyakit yang sudah ada.
"Dampaknya bisa menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya," kata Wahyuni.
Ia juga memperingatkan orang tua yang memiliki anak dengan kondisi khusus, seperti penyakit jantung bawaan atau riwayat displasia bronkopulmonal. "Mereka juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," tegasnya.
Untuk mengurangi risiko berbahaya tersebut pada anak, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan delapan langkah praktis yang dapat dilakukan oleh orang tua:
-
Pantau Kualitas Udara: Cek secara rutin Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah masing-masing, meskipun tidak ada titik api di dekat rumah. Asap dapat menyebar ratusan kilometer.
-
Siapkan Ruang Bersih: Buat ‘clean room’ di rumah dengan sedikit jendela dan pintu. Jika memungkinkan, lengkapi dengan alat pembersih udara portabel (non-ozone).
-
Tetap di Dalam Rumah: Saat kabut asap pekat, pastikan pintu dan jendela tertutup. Jika menggunakan AC, atur mode resirkulasi udara (tidak menarik udara segar dari luar).
-
Jaga Kualitas Udara Indoor: Hindari pemicu seperti rokok, kompor gas/kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang daging, serta penggunaan vacuum cleaner yang dapat memperburuk udara dalam ruangan.
-
Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Hindari aktivitas fisik berat di luar rumah jika udara terlihat atau berbau asap.
-
Gunakan Proteksi: Jika terpaksa harus keluar rumah, pastikan anak berusia 2 tahun ke atas mengenakan masker dan kacamata untuk mencegah iritasi.
-
Waspada Kondisi Kronis: Pastikan obat-obatan rutin untuk anak dengan asma atau alergi selalu tersedia, termasuk obat pereda cepat (rescue inhaler).
-
Cari Bantuan Medis Segera: Jangan menunda untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum.
IDAI berharap langkah-langkah pencegahan ini dapat diterapkan secara disiplin oleh masyarakat, khususnya di wilayah terdampak karhutla, guna meminimalisir dampak kesehatan jangka panjang pada generasi muda.(*)
Editor : Thomas Priyandoko