Mengeluh Berlebihan Intai Kesehatan, Lonjakan Kortisol hingga Risiko Otak Menyusut

Ari Arief • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 15:06 WIB
Ilustrasi mengeluh berpotensi membuat otak menyusut.(generate ai)
Ilustrasi mengeluh berpotensi membuat otak menyusut.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Mengeluh kerap menjadi jalan pintas untuk meluapkan beban emosi dan kejenuhan sehari-hari. Meski ampuh meredakan tekanan emosional jika dilakukan seperlunya, kebiasaan mengeluh yang berlebihan ternyata menyimpan dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

Psikolog Kesehatan Klinis dari SelfWorks, Kerry Cannity, PhD, menjelaskan bahwa mengeluh sejatinya berdampak positif selama tidak berlebihan. Langkah ini dapat membantu seseorang meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, serta memicu proses pemecahan masalah. Menurutnya, memendam emosi justru membahayakan daya ingat, hubungan sosial, hingga kesehatan jantung.

Baca Juga: Reforma Agraria, Jangan Sekadar Bagi-Bagi Tanah

Senada dengan hal tersebut, Terapis BetterHelp, Sarah Close, LPC, menyebutkan bahwa menceritakan masalah kepada pendengar yang tepat mampu menghadirkan rasa lega, terutama jika pendengar tidak menghakimi atau terburu-buru menghakimi perasaan tersebut.

Namun, para ahli menegaskan adanya batas tegas antara mengeluh yang sehat dan yang berisiko. Cannity memperingatkan bahwa mengeluh yang menjadi kebiasaan dapat merestrukturisasi cara kerja otak ke arah negatif. Otak menjadi lebih responsif terhadap pemicu kemarahan dan ketakutan, yang berujung pada lonjakan hormon stres di dalam tubuh.

Baca Juga: Ekspansi Pusat Data AI Berpotensi Perparah Krisis Air Bersih di Indonesia

Secara medis, aktivitas mengeluh memicu pelepasan hormon kortisol. Kadar kortisol yang terlampau tinggi secara terus-menerus berpotensi mengganggu kualitas tidur, meningkatkan tekanan darah, merusak sistem metabolisme, serta mengganggu fungsi organ vital lainnya. Bahkan, studi dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa mengeluh atau mendengarkan keluhan orang lain selama 30 menit atau lebih berisiko mengecilkan hipokampus, bagian otak yang mengontrol memori dan emosi.

Tak hanya mengancam kesehatan fisik dan otak, kebiasaan mengeluh secara kronis juga berisiko merusak hubungan sosial. Terapis dinamika hubungan, Mary McLaughlin, LCSW, menilai bahwa percakapan yang selalu diisi keluhan lama-kelamaan akan membuat orang lain merasa enggan untuk berinteraksi.

Baca Juga: Apa Jadinya Jika MK Putuskan Diskualifikasi Gibran? Ini Kata Pakar!

Untuk mengenali batas sehat mengeluh, Sarah Close menyarankan agar setiap orang mengevaluasi perasaannya sesudah meluapkan unek-unek. Jika mengeluh tidak membawa kejelasan, tidak menghasilkan solusi, dan justru memicu rasa frustrasi yang berulang, hal tersebut menjadi sinyal kuat untuk segera membatasi kebiasaan tersebut demi menjaga kesehatan jiwa dan raga.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
otak jantung kesehatan Mengeluh