KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Anggapan bahwa rambut beruban merupakan tanda tubuh sedang aktif melawan kanker dipastikan tidak tepat. Masyarakat diminta untuk tidak terkecoh dengan mitos tersebut dan tetap konsisten menjaga pola hidup sehat guna mencegah risiko penyakit ganas tersebut.
Penjelasan ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yenny Rachmawati, M.Biomed, merespons isu yang sempat ramai terkait hubungan antara kemunculan uban dan mekanisme tubuh dalam mencegah kanker.
Baca Juga: Jangan Kaget! 5 Jenis Operasi Ini Tak Masuk Tanggungan BPJS Kesehatan
Dr. Yenny menegaskan, warna rambut sama sekali tidak dapat dijadikan penanda atau indikator untuk memperkirakan tingkat risiko kanker seseorang.
"Uban bukan berarti tubuh secara aktif melawan kanker. Warna rambut tidak dapat digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan risiko kanker seseorang," ujar dr. Yenny.
Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Level Rp 17.950 per Dolar AS pada Pembukaan Awal Pekan
Mitos ini berawal dari sebuah penelitian pada 2025 yang menemukan adanya hubungan antara kerusakan DNA dengan dua kemungkinan respons sel, yaitu rambut memutih atau terbentuknya lesi yang mengarah pada melanoma (kanker kulit).
Dalam penelitian eksperimental pada hewan uji, sel punca melanosit—sel pembuat pigmen rambut—yang mengalami kerusakan DNA bisa mengalami penuaan sehingga rambut memutih. Namun, di bawah pengaruh zat karsinogenik, sel tersebut dapat bertransformasi menjadi lesi pra-kanker.
Baca Juga: PPh 22 Marketplace Berlaku 1 Oktober, Pedagang Omzet Rp500 Juta Kena Pajak? Ini Kata DJP
Meski demikian, dr. Yenny menekankan bahwa hingga saat ini belum ada bukti epidemiologis yang memadai pada manusia yang menunjukkan orang cepat beruban memiliki risiko kanker lebih rendah.
"Oleh karena itu, kita tidak perlu mengaitkan kemunculan uban dengan kemampuan tubuh menghentikan kanker. Pemahaman yang tepat ini penting agar kita tidak mengabaikan faktor risiko kanker hanya karena rambut mulai memutih," tuturnya.
Baca Juga: Unmul Jadi Satu-satunya Kampus di Kalimantan yang Menggelar Psikotes Program Tunas 2026
Faktor Pencetus Uban Dini
Mengenai proses terbentuknya uban, dr. Yenny menjelaskan bahwa warna rambut dihasilkan oleh melanosit di folikel rambut. Seiring bertambahnya usia, sel punca melanosit berkurang atau kehilangan fungsinya, sehingga rambut tumbuh tanpa pigmen dan berwarna putih.
Selain faktor usia dan genetik sebagai penyebab utama, proses pemutihan rambut juga dipengaruhi oleh stres oksidatif, kebiasaan merokok, polusi, hingga paparan lingkungan tertentu.
Baca Juga: Jokowi dan SBY Duduk Berdampingan di HUT ke-81 TNI, Ada yang Menarik Perhatian
"Stres psikologis berat juga diduga mempercepat berkurangnya sel punca melanosit melalui aktivasi sistem saraf simpatis," jelasnya.
Pada beberapa kasus, kemunculan uban di usia dini dapat dipicu oleh masalah kesehatan internal, seperti kekurangan vitamin B12, defisiensi zat besi, gangguan tiroid, hingga penyakit autoimun. Kendati demikian, uban tidak selalu menjadi penanda mutlak adanya penyakit atau kekurangan nutrisi.
Baca Juga: MK Putus Perkara Gibran Hari Ini, Akankah Wapres Lengser dari Kursi RI 2?
Ia menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan pemeriksaan medis apabila uban muncul sangat dini dan disertai gejala atau keluhan kesehatan lainnya.
Mengakhiri keterangannya, dr. Yenny mengingatkan bahwa langkah pencegahan kanker harus tetap dijalankan tanpa memandang warna rambut seseorang.
Baca Juga: Tragedi di Laut Lepas: 4 ABK Disiksa Sadis dalam Tong Air Akibat Kuota Tangkapan Cumi
"Pencegahan kanker tetap perlu dilakukan tanpa melihat warna rambut, antara lain dengan pola hidup sehat, menghindari rokok, melindungi kulit dari paparan ultraviolet berlebihan, serta memperhatikan perubahan tahi lalat atau lesi kulit yang mencurigakan," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko