KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Masalah jerawat tidak hanya menyerang usia remaja, tetapi juga marak dialami oleh orang dewasa. Fenomena adult acne ini kerap memicu dampak psikologis mendalam hingga menurunkan rasa percaya diri penderitanya.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Gillian Maegan Montalbo, seorang pembuat konten asal Filipina. Ia mengaku sempat kehilangan rasa percaya diri dan merasa canggung berhadapan dengan atasan akibat jerawat yang parah di area pipi serta dagunya saat memasuki dunia kerja.
Baca Juga: Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Tim Gabungan Salurkan 53 Ribu Liter Air Bersih di Sepaku PPU
"Masalah ini benar-benar merusak harga diri dan rasa percaya diri saya," kata Montalbo dikutip dari Associated Press (AP), Minggu (11/10).
Direktur Ethnic Skin Program di Johns Hopkins School of Medicine, Dr. Crystal Aguh, menjelaskan bahwa penyebab jerawat pada orang dewasa dan remaja memiliki pola yang berbeda. Jerawat remaja umumnya memicu area dahi, hidung, dan pipi. Sementara pada orang dewasa, khususnya wanita, jerawat kerap muncul akibat perubahan hormon di area rahang dan dagu. Faktor lain seperti genetika, lingkungan, konsumsi produk olahan susu berlebih, hingga penggunaan steroid juga dapat memicu kondisi ini.
Baca Juga: Studi BRIN: Vape Berpotensi Pemicu Diabetes dan Kerusakan Pankreas
Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh minyak, sel kulit mati, dan bakteri. Jika benjolan berlanjut dan menyebar, kondisi tersebut tergolong masalah medis yang memerlukan penanganan khusus.
Terkait penanganan, pendiri Fine Dermatology di Chicago, Dr. Lauren Fine, mengimbau masyarakat untuk tidak memencet atau memecahkan jerawat secara mandiri. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat mendorong peradangan lebih dalam ke jaringan kulit, memperluas area jerawat, hingga meninggalkan bekas luka yang sulit hilang.
Baca Juga: Bawa Enam Wahana Horor ke Balikpapan, Pandora Box Perdana Hadir di Kalimantan
Untuk kasus jerawat ringan, dokter kulit biasanya merekomendasikan produk perawatan yang mengandung benzoyl peroxide, salicylic acid, atau retinoid seperti adapalene. Sementara untuk kondisi yang lebih berat atau jerawat kistik, dokter dapat meresepkan antibiotik, tretinoin, hingga isotretinoin. Kasus jerawat hormonal pada wanita juga kerap ditangani dengan terapi penyeimbang hormon seperti spironolakton atau kontrasepsi oral.
Adapun penanganan bekas jerawat dapat dibantu menggunakan eksfoliator berformula glycolic acid, sedangkan kasus komplikasi struktur kulit yang lebih parah memerlukan prosedur medis berbasis laser.
Baca Juga: Antisipasi Banjir, Pemkot Samarinda Kebut Normalisasi Drainase
Para pakar mengimbau masyarakat yang mengalami jerawat membandel untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis kulit agar mendapatkan perawatan yang tepat dan tidak membiarkan kondisi tersebut mengganggu kualitas hidup.(*)
Editor : Thomas Priyandoko