Suka Makan Kol Goreng dengan Sambal? Kenikmatan Renyah yang Memicu Risiko Hipertensi

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:46 WIB
Ilustrasi kol goreng dengan sambal.
Ilustrasi kol goreng dengan sambal.

KALTIMPOST.ID - Kol goreng kerap menjadi menu pendamping favorit banyak orang karena aromanya yang gurih serta teksturnya yang renyah. Namun, di balik kelezatan olahan sayur tersebut, tersimpan ancaman ganda bagi kesehatan tubuh, mulai dari obesitas hingga lonjakan tekanan darah atau hipertensi.

Sayur kol sejatinya merupakan bahan pangan bernutrisi tinggi dan memiliki kandungan alami yang bermanfaat untuk mencegah kanker saat dikonsumsi segar.

Sayangnya, proses pengolahan dengan cara digoreng dalam suhu tinggi merusak struktur dinding sel kol, sehingga sayuran tersebut menyerap minyak dalam jumlah yang sangat banyak.

Kondisi tersebut kian berisiko saat kol goreng disajikan dengan taburan garam serta bumbu penyedap rasa. Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa tambahan bumbu membuat makanan yang sejatinya rendah kalori berubah drastis menjadi sajian padat energi yang memicu kenaikan berat badan.

Baca Juga: Apa Jadinya Jika Pasar Modal RI Turun Kasta ke Standalone Market?

"Terus udah pasti kalorinya akan tinggi banget. Jadi kayak gemuk kalori nih si kolnya, padahal kolnya gak bikin kenyang," ucap dr Yaze, dilansir dari Detikhealth, Sabtu (17/10).

Selain memicu lonjakan kalori tanpa memberikan efek kenyang, kandungan natrium dari garam dan micin pada kol goreng berpotensi besar mengganggu kestabilan tekanan darah.

Perpaduan antara penyerapan minyak jenuh dan asupan natrium berlebih menciptakan kombinasi berbahaya bagi kesehatan pembuluh darah.

"Itu kan yang tadinya si kol ini sehat, sayuran, bahkan dia tuh sebenernya ada kandungan untuk pencegah kankernya, eh ini gara-gara misalnya udah minyaknya minyak jelantah, ditambahin beberapa bumbu sama akhirnya ditambahin garam," jelas dr Yaze.

Baca Juga: Siap-Siap Lah! Air PDAM Balikpapan Berpotensi Mati 19 Oktober, Ini Daftar Puluhan Wilayah Terdampak

Dr Yaze menegaskan bahwa efek penambahan garam dan penyedap tersebut secara langsung mendongkrak kadar natrium dalam makanan. "Kan natriumnya ikutan tinggi juga. Malah bisa menyebabkan penyakit hipertensi gitu," lanjutnya.

Ancaman kesehatan ini semakin meningkat apabila proses penggorengan menggunakan minyak jelantah yang telah dipanaskan secara berulang kali.

Kebiasaan mengonsumsi kol goreng berbumbu secara terus-menerus dapat mengakibatkan penumpukan lemak jenuh dan lemak trans di dalam tubuh.

Melihat besarnya potensi gangguan kesehatan seperti hipertensi dan obesitas, dr Yaze mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menentukan menu makanan harian.

Sikap cermat dan mindful dalam memilih makanan dinilai sangat krusial guna menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.***

Editor : Dwi Puspitarini
kol goreng makan kol goreng hipertensi kesehatan obesitas