Waspada GERD Berat, Kenali Gejala, Komplikasi, dan Cara Mengelolanya

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 6 November 2026 | 14:33 WIB

 

Ilustrasi tampak seorang perempuan sedang menahan perutnya yang terasa sakit.(generate ai)
Ilustrasi tampak seorang perempuan sedang menahan perutnya yang terasa sakit.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tidak boleh dianggap sepele dan harus ditangani secara tuntas. Terlebih, kondisi GERD berat berisiko memicu berbagai komplikasi serius hingga mengganggu kualitas hidup penderita.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. Fahrial Syam, SpPD,K-GEH, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala GERD berat yang ditandai dengan muntah hebat, muntah darah, hingga buang air besar berwarna hitam. Kondisi tersebut sering kali disertai penurunan berat badan drastis dan pucat akibat kekurangan zat besi.

Baca Juga: Kaltim Prioritas, Kemenkes Targetkan 10.600 Alat Diagnostik Molekuler TBC Masuk Puskesmas 2027

"Karena memang mungkin juga terjadi perdarahan yang tersembunyi, yang kita bilang hanya dibuktikan dengan lab, itu juga harus segera ke rumah sakit. Atau pasien GERD yang memang dengan riwayat keluarga dengan kanker kerongkongan, misalnya, atau kanker esofagus atau kanker lambung, maka mereka ketika mengalami GERD, dia harus segera ditangani secara intensif di rumah sakit," kata Ari. 

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) itu menjelaskan, asam lambung yang naik tidak hanya berdampak pada kerongkongan, tetapi juga dapat menjalar ke organ tubuh lainnya. Akibatnya, penderita kerap mengeluhkan gigi ngilu, telinga berdengung, hidung tersumbat, hingga sesak napas jika asam lambung mencapai saluran pernapasan.

Baca Juga: Gandeng Samsung dan LG, Apple Siapkan Teknologi Layar OLED Masa Depan Lebih Murah dan Superior

Menurutnya, jika diabaikan, gangguan sekunder tersebut lambat laun akan menurunkan kualitas hidup penderita, termasuk mengganggu produktivitas kerja dan kehidupan sosial sehari-hari.

Sebagai langkah pencegahan dan pemulihan, penderita diimbau untuk berobat secara teratur sesuai anjuran dokter serta mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Penanganan GERD perlu dibarengi dengan waktu tidur yang cukup, pengelolaan stres yang baik, serta menghindari konsumsi makanan pemicu seperti cokelat, keju, makanan pedas, dan asam.

Baca Juga: Roy Suryo dan Dokter Tifa Kompak Tolak Kesaksian Jokowi di Sidang Ijazah Palsu

Selain itu, penderita juga disarankan untuk menjauhi rokok dan alkohol, rutin berolahraga, serta melakukan teknik relaksasi seperti meditasi, beribadah, dan mendapatkan dukungan sosial dari keluarga terdekat.

Prof. Ari menambahkan, pasien GERD juga kerap mengalami kecemasan berlebih (ansietas) hingga panic disorder saat asam lambungnya kambuh. Ia berpesan agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik guna meredakan gejala serangan GERD.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
gerd asam lambung darah