KALTIMPOST.ID, KUTAI BARAT - Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro bertolak ke Kutai Barat (Kubar) guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Didampingi Wakapolda, Brigjen Pol Muhammad Sabilul Alif meluncurkan program Launching industri pertanian dan penanaman jagung serentak.
Kegiatan digelar di kawasan Yonif TP 827/Mcy, Kampung Muhur, Kecamatan Siluq Ngurai, Kutai Barat, di lahan eks tambang PT Gunung Bayan. Acara dihadiri Forkopimda Kutai Barat, pejabat utama Polda Kaltim, serta sejumlah stakeholder pertanian.
Kapolda bersama kelompok tani melakukan penanaman jagung secara simbolis serta menyerahkan bantuan sosial kepada masyarakat setempat.
Data terbaru menunjukkan produksi jagung di Kaltim meningkat tajam dari 2.159 ton pada Januari–Agustus 2024 menjadi 7.524 ton pada periode yang sama tahun 2025, atau tumbuh 248,49 persen.
Capaian ini menempatkan Kaltim di posisi ketiga nasional dalam produksi jagung, hasil sinergi antara Polda Kaltim, pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha.
“Mengusung konsep industrial farming, sistem pertanian modern yang memanfaatkan seluruh hasil produksi secara efisien,” terang kapolda didmapingi Kapolres Kutai Barat, AKBP Boney Wahyu Wicaksono.
Konsep tersebut, dikembangkan agar semua hasil pertanian termanfaatkan. Jagungnya untuk pakan, batangnya untuk ternak sapi, dan limbahnya menjadi pupuk organik. Ia menambahkan, program ini juga menjadi bentuk transformasi lahan eks tambang menjadi lahan produktif.
“Kita ubah lahan bekas tambang PT Bayan seluas 50 hektare menjadi kawasan pertanian berkelanjutan. Ini bagian dari upaya mendukung ekonomi hijau dan ketahanan pangan daerah,” paparnya.
Hingga awal November 2025, total lahan jagung yang telah ditanami mencapai 2.459 hektare, melibatkan 142 perusahaan dari berbagai sektor, serta delapan Polres jajaran dengan lahan tambahan 195 hektare.
Polda Kaltim juga mengembangkan aplikasi digital untuk memantau ketahanan pangan dan memperkuat kerja sama dengan GAPKI, Non-GAPKI, dan perguruan tinggi.
“Dalam empat hingga lima bulan ke depan, kita berharap efek domino dari sistem ini bisa menurunkan harga komoditas, seperti telur dan pakan ternak,” imbuhnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo