KALTIMPOST.ID, SENDAWAR - Tujuh buku Kebudayaan Kutai Barat tahun 2025 segera akan dicetak, hal ini ini ditandai dengan digelarnya laporan akhir penulisan buku, kegiatan tersebut digelar di Aula Disdik Kubar, Senin ( 24/11/2025).
Penulisan buku dalam upaya memperkaya literatur lokal, wawasan dan pengenalan serta pengetahuan tentang adat dan budaya Kabupaten Kutai Barat.
Tujuh buku tersebut ditulis oleh sejumlah penulis lokal Kutai Barat yang tergabung dalam Perkumpulan Bina Benua Puti Jaji.
Salah satu penulis, Paulus Kadok mengatakan penulisan buku ini bertujuan untuk berpartisipasi dalam program pelestarian kebudayaan dan adat istiadat di Kabupaten Kutai Barat, melalui penulisan buku- buku kebudayaan.
"Penulisan tujuh buku ini bekerjasama dengan Disdikbud Kubar, dengan menggelar riset," ujarnya.
Lanjut presentasi akhir ini, bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran akhir sebelum buku kebudayaan dicetak.
Melalui kesempatan ini Paulus Kadok menyampaikan Terima kasih kepada Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin atas dukungan penulisan buku kebudayaan Kutai Barat.
Paulus Kadok, sendiri menulis buku 101 nasihat bijak dalam ritual perkawinan adat Dayak Benuaq,
Intisari dari buku ini adalah kumpulan petuah yang diberikan kepada pasangan yang melaksanakan ritual perkawinan adat, agar mereka kelak bahagia dan langgeng dalam menjalankan rumah tangganya.
Penulis lainnya, Fidelis Nyongka menulis tiga buku berjudul Pelangi Sendawar yang berisi kumpulan cerita rakyat Kutai Barat dan Buku Sejarah Lamin Tolan, Mancong, Benung dan Pepas Eheng serta Buku Monas dan Ringeeng Jilid II.
Kejudian, Dr Jumri Yedi menulis buku berjudul, Strategi Pembangunan dan Pelestarian Adat dan Hukum Adat Budaya Rentenukng Berbasis Komunitas Lokal. Buku ini adalah buku yg mengulas perjalanan pemikiran untuk menemukan strategi tepat dalam kaitannya dengan upaya untuk melestarikan adat dan hukum adat budaya Rentenuukng.
Kemudian, Inosensius Syukur, menulis buku sejarah kampung-kampung di kawasan Linggang. Buku ini menghasilkan model pelestarian sejarah lokal yang dapat diadaptasi di wilayah lain.
Melalui dokumentasi komperenhensif sejarah kampung-kampung di kecamatan Linggang Bigung sebagai upaya melestarikan warisan budaya serta memperkuat identitas Dayak Tonyooi Rentenuukng di Kabupatan Kutai Barat.
Dan terakhir Buku Pesan Eskatologis Dalam Ritual Kematian Dayak Benuaq, ditulis oleh Simon Seboraga. (*)
Editor : Sukri Sikki