KALTIMPOST.ID, SENDAWAR–Pelaksanaan acara adat Laliq Ugal Hudoq Kawit digelar di Kampung Anah, Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Minggu (21/12). Kegiatan adat tahunan tersebut secara resmi dibuka Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin.
Dalam sambutannya, Frederick mengapresiasi pelaksanaan Laliq Ugal Hudoq Kawit yang hingga kini tetap lestari sebagai tradisi turun-temurun masyarakat adat Dayak Bahau. Menurutnya, ritual adat itu memiliki makna yang sangat mendalam sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Tradisi itu bukan sekadar seremonial, tetapi juga doa dan harapan agar masyarakat senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kesejahteraan,” ujar Frederick.
Pelaksanaan Laliq Ugal Hudoq Kawit yang rutin digelar setiap tahun, merupakan salah satu bentuk nyata pelestarian adat dan budaya masyarakat Dayak Bahau. Melalui kegiatan seperti itu, diharapkan nilai-nilai adat dan budaya dapat ditanamkan kepada generasi muda sejak dini.
“Generasi muda perlu mengenal, memahami, dan mencintai jati diri budayanya sendiri. Dengan demikian, budaya Laliq Ugal Hudoq Kawit dapat terus terjaga dan menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang berkarakter serta berdaya saing,” harapnya.
Pada kesempatan tersebut, Frederick juga mengajak masyarakat Kampung Anah untuk terus mengoptimalkan peran serta secara partisipatif dalam pembangunan kampung. Dia mendorong masyarakat agar terus menggali dan mengembangkan potensi sumber daya lokal, khususnya di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan warga.
Acara adat itu diharapkan dapat terus dilestarikan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya, mempererat persatuan masyarakat, serta mendukung terwujudnya Kutai Barat yang sejahtera, aman, adil, merata, dan beradat.
Laliq Ugal Hudoq Kawit merupakan ritual adat Suku Dayak Bahau yang berkembang di wilayah Kalimantan, khususnya Mahakam Ulu dan Kutai Barat. Ritual itu dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur, permohonan perlindungan, serta doa agar panen padi melimpah.
Prosesi adat dilakukan dengan menghadirkan topeng dan tarian sakral sebagai simbol pemanggilan ruh leluhur, yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi bagian penting dari pelestarian budaya serta aset pariwisata daerah. (*)
Editor : Dwi Restu A