SENDAWAR - Di bawah naungan atap yang memanjang, deretan tiang kayu ulin berdiri kokoh merengkuh tanah Kutai Barat. Bukan sekadar struktur arsitektur, Lou Bentian adalah manifestasi fisik dari jiwa masyarakat Dayak Bentian. Bangunan sepanjang 50 meter dengan 300 pilar ulin ini bukan hanya monumen masa lalu, melainkan sebuah "ruang hidup" yang kini berdenyut kencang dengan berbagai aktivitas modern yang tetap berpijak pada akar tradisi.
Sejak diresmikan pada 2021, Lou Bentian telah bertransformasi menjadi titik temu bagi sembilan kampung di Kecamatan Bentian Besar. Keberadaannya menghidupkan kembali konsep Rumah Panjang yang sempat memudar dimakan zaman. Di sini, sekat-sekat geografis antar-kampung melebur.
Baca Juga: Pemkab Kubar Targetkan Perluasan Jaminan Sosial Pekerja
Mulai dari prosesi pernikahan yang sakral, pelatihan keterampilan bagi pemuda, hingga musyawarah besar antara tokoh adat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pada April 2026 lalu, semua menemukan rumahnya di Lou Bentian. Ruang utama yang luas dan terbuka sengaja dirancang untuk merangkul semangat gotong royong, memastikan bahwa keputusan besar bagi masa depan adat diambil melalui mufakat di bawah ornamen tradisional yang sarat makna.
Lahirnya Lou Bentian merupakan buah dari perjalanan panjang sejak tahun 2012. Peran PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) melalui anak-anak usahanya—PT Trubaindo Coal Mining (TCM), PT Bharinto Ekatama (BEK), dan PT Tepian Indah Sukses (TIS)—menunjukkan komitmen yang melampaui sekadar bantuan infrastruktur.
Dukungan ITM tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Pasca-peresmian, perusahaan masuk ke tahap pendampingan dan pengembangan. Fokusnya adalah memastikan Lou Bentian menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan budaya yang mandiri. Investasi pada material kayu ulin yang tahan banting merupakan simbol dari harapan agar warisan budaya ini tetap berdiri tegak untuk generasi-generasi mendatang, menjadi benteng terakhir penjaga identitas Dayak Bentian di tengah arus modernisasi.
Baca Juga: Mangkrak di Tengah Kasus, Warga Kubar Tagih Progres Korupsi RS Pratama Bekokong
Kehadiran Lou Bentian memicu optimisme baru bagi para penjaga adat. AKP (Purn) Lorensius, Ketua Pokdarwis sekaligus tokoh masyarakat setempat, melihat bangunan ini sebagai jembatan emas menuju pelestarian budaya yang lebih sistematis.
"Kami menyampaikan apresiasi yang sangat dalam atas inisiatif ITM melalui TCM, BEK, dan TIS. Mereka tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun kembali rasa percaya diri kami sebagai masyarakat adat," ungkap Lorensius. Kamis (7/5/2026).
Bagi Lorensius, dukungan yang diberikan perusahaan dalam mendorong operasional Lou Bentian sebagai pusat kegiatan sosial-budaya adalah langkah nyata dalam menjaga harmoni. "Harapannya, Lou Bentian terus menjadi wadah silaturahmi yang mempererat ikatan kekeluargaan kami di Bentian Besar, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang membanggakan bagi Kutai Barat," tambahnya.
Dengan arsitektur yang megah dan filosofi yang mendalam, Lou Bentian kini berdiri sebagai bukti bahwa industri dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan. Ia menjadi bukti nyata bahwa kemajuan ekonomi yang dibawa oleh sektor pertambangan dapat dikonversi menjadi energi untuk menghidupkan kembali tradisi yang hampir sirna.
Di Lou Bentian, masa lalu dihormati, masa kini dirayakan, dan masa depan direncanakan dengan penuh kebersamaan.
Editor : Muhammad Ridhuan