KALTIMPOST.ID-Persoalan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar di Kutai Barat (Kubar) kembali menuai sorotan.
Meski DPRD Kubar sebelumnya telah menggelar rapat dengar pendapat (RDP) lintas sektor, kondisi di lapangan disebut belum mengalami perubahan signifikan.
Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih terus terjadi, terutama di wilayah Kecamatan Melak.
Ketua Aliansi Peduli Masyarakat Sendawar (APMS) Darsono Edward mengatakan pihaknya kecewa karena hasil RDP yang melibatkan DPRD Kubar, pemerintah daerah, unsur FKPD, hingga masyarakat dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan distribusi BBM subsidi.
Menurutnya, berdasarkan pemantauan yang dilakukan APMS, antrean kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi masih didominasi kendaraan yang diduga melakukan pembelian berulang dalam jumlah besar.
“Pantauan kami di lapangan pasca-RDP minggu lalu hingga hari ini, distribusi BBM subsidi belum ada perbaikan. Barisan panjang kendaraan yang diduga menyedot BBM subsidi dalam skala besar masih terus terjadi,” ujarnya, Senin (18/5).
Baca Juga: Bupati PPU Tekankan Stabilitas Pasokan Pangan dalam High Level Meeting TPID di Balikpapan
Edward menilai masyarakat sudah jenuh dengan pembahasan yang hanya berhenti di forum diskusi tanpa diikuti langkah konkret di lapangan.
Karena itu, APMS mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum lebih serius melakukan pengawasan distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran.
“Penyaluran BBM subsidi harus benar-benar dikawal agar dinikmati masyarakat yang berhak, bukan segelintir oknum,” tegasnya.
Merasa persoalan di daerah belum mendapat solusi, APMS berencana menyurati langsung Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) serta Kapolri di Jakarta.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk aspirasi masyarakat yang berharap distribusi BBM subsidi di Kubar dapat berjalan lebih adil dan merata.
“Itu murni aspirasi masyarakat yang ingin mendapatkan hak mereka atas BBM subsidi,” katanya.
Baca Juga: Banjir Kiriman dari Mahulu Rendam Kecamatan Tering, Jalur Poros Kubar-Mahulu Mulai Tergenang
Keluhan serupa juga disampaikan warga Kubar, Ilyas. Ia berharap masyarakat kecil bisa menikmati solar subsidi tanpa harus kesulitan antre berjam-jam di SPBU.
Menurutnya, kuota solar subsidi untuk Kubar yang disebut mencapai ratusan ribu liter per bulan seharusnya cukup memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap sebagai masyarakat kecil bisa menikmati solar subsidi. Kalau kuotanya memang besar, masyarakat juga bertanya kebocorannya di mana,” ujarnya.
Warga menilai kondisi tersebut membuat masyarakat kecil terpaksa membeli BBM nonsubsidi dengan harga lebih mahal demi tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Persoalan distribusi BBM subsidi di Kubar sendiri sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih menjadi salah satu keluhan utama masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan pengguna kendaraan berbahan bakar solar. (rd)
Editor : Romdani.