KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Pembangunan Jembatan 1 pada ruas Tering–Long Bagun 8 terus menunjukkan progres. Setelah pekerjaan pondasi bore pile di STA 13+800, Kelian Dalam, rampung, proyek kini memasuki tahapan pengendalian mutu sebelum konstruksi dilanjutkan ke struktur atas.
Pada pekan ini, tim proyek melaksanakan serangkaian pengujian terhadap bore pile yang telah mencapai umur beton 28 hari. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas pondasi memenuhi spesifikasi teknis dan mampu menopang beban jembatan sesuai desain yang telah direncanakan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perbatasan 2 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur, Prima F, menegaskan bahwa pengawasan mutu menjadi tahapan penting yang tidak bisa diabaikan dalam pembangunan infrastruktur strategis.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Samarinda Minta Pemerintah Juga Fokus Bisa Buka Lapangan Kerja
“Pondasi adalah elemen paling mendasar dalam sebuah jembatan. Karena itu, sebelum pekerjaan dilanjutkan ke tahap berikutnya, kami harus memastikan seluruh struktur bore pile telah memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan,” ujar Prima, Selasa (2/6).
Salah satu pengujian yang dilakukan adalah Crosshole Sonic Logging (CSL). Metode ini digunakan untuk memeriksa kualitas dan homogenitas beton di dalam bore pile setelah proses pengecoran selesai.
Melalui pengujian CSL, tim teknis dapat mendeteksi potensi cacat, rongga, maupun ketidaksempurnaan struktur beton yang tidak terlihat dari permukaan.
Selain itu, tim juga melaksanakan Pile Driving Analyzer (PDA) Test untuk mengukur kapasitas daya dukung pondasi serta respons struktur tiang terhadap pembebanan. Hasil pengujian tersebut menjadi dasar dalam memastikan pondasi mampu bekerja sesuai fungsi desain selama masa layanan jembatan.
Menurut Prima, seluruh rangkaian pengujian dilakukan oleh lembaga independen guna menjamin objektivitas hasil pemeriksaan. Prosesnya juga disaksikan langsung oleh konsultan supervisi dan tim pengawas lapangan sebagai bagian dari sistem pengendalian mutu yang berlapis.
“Kami ingin memastikan setiap tahapan pekerjaan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Pengujian independen menjadi instrumen penting untuk memberikan keyakinan bahwa struktur yang dibangun benar-benar andal dan aman,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kegiatan pengujian berlangsung lancar dengan dukungan berbagai tim teknis. Apabila seluruh hasil evaluasi dinyatakan memenuhi persyaratan, pekerjaan konstruksi akan dilanjutkan ke tahap pembangunan abutment sebagai bagian dari struktur utama jembatan.
Tahapan tersebut menjadi momentum penting dalam progres pembangunan Jembatan 1. Pasalnya, abutment akan berfungsi sebagai penahan tanah sekaligus tumpuan utama bagi struktur atas jembatan.
Dengan pengawasan mutu yang ketat sejak tahap pondasi, pemerintah optimistis jembatan yang dibangun di Kelian Dalam, Kabupaten Kutai Barat, akan memiliki tingkat keamanan, keandalan, dan umur layanan yang optimal untuk mendukung konektivitas kawasan perbatasan dalam jangka panjang. (*/adv)
Editor : Ery Supriyadi