KALTIMPOST.ID-Seperempat abad bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah lembaga adat.
Selama 25 tahun terakhir, Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menjadi salah satu penjaga nilai-nilai budaya dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Bumi Tanaa Purai Ngeriman.
Momen tersebut diperingati melalui perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 yang berlangsung di Kantor Presidium Dewan Adat Kutai Barat, Kompleks Taman Budaya Sendawar, Selasa (21/7).
Suasana peringatan berlangsung khidmat. Berbagai elemen masyarakat hadir, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD).
Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap keberlangsungan lembaga adat yang selama ini berperan menjaga identitas budaya masyarakat Kubar.
Bupati Kubar Fredrick Edwin hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut. Turut mendampingi, Sekretaris Daerah Erik Victory, Ketua TP PKK Kutai Barat Maria Christina Mozes Edwin, Ketua KONI Kutai Barat Alysius, serta Bupati Kubar periode 2006–2016 Ismail Thomas.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan sejarah berdirinya Presidium Dewan Adat yang resmi dibentuk pada 21 Juli 2001.
Sejak saat itu, PDA menjadi wadah yang mengakomodasi peran para kepala adat dalam menjaga kelestarian adat istiadat sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Dalam sambutannya, Fredrick menyampaikan apresiasi atas kontribusi panjang PDA dalam merawat nilai-nilai adat dan budaya di Kubar.
Menurutnya, eksistensi lembaga adat memiliki arti penting di tengah pesatnya perubahan zaman.
“Atas nama Pemkab Kubar dan pribadi, saya mengucapkan selamat hari ulang tahun ke-25 Presidium Dewan Adat Kubar. Semoga semakin maju, semakin kuat, serta terus menjadi garda terdepan dalam menjaga adat, budaya, dan persatuan masyarakat Kubar,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat mengenang jasa para tokoh yang berperan besar dalam membangun dan memperkuat kelembagaan adat, di antaranya almarhum Yustinus Dullah, almarhum FV Munthi, serta Ismail Thomas.
Menurutnya, dedikasi para tokoh tersebut menjadi fondasi penting bagi perjalanan PDA hingga saat ini.
Fredrick menegaskan pemerintah daerah berkomitmen terus memperkuat kelembagaan adat melalui pembinaan kepala adat dan sinergi yang berkelanjutan.
Ia menilai PDA bukan hanya berfungsi sebagai pelestari budaya, tetapi juga perekat persatuan masyarakat serta mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan berbasis kearifan lokal.
Komitmen itu disambut Ketua Presidium Dewan Adat Kubar Yurang. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan Pemkab Kubar terhadap berbagai program dan tugas kelembagaan adat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Peringatan HUT ke-25 PDA juga diwarnai penyerahan penghargaan kepada salah seorang tokoh pendiri sekaligus pengayom dan pembina PDA Kutai Barat, Ismail Thomas.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam membangun dan mengembangkan lembaga adat yang kini telah memasuki usia seperempat abad, sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian adat membutuhkan kesinambungan peran lintas generasi. (rd)
Editor : Romdani.