SENDAWAR — Upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama BMKG dan BNPB membuahkan hasil. Sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Barat pada Senin (24/8/2026), turun hujan ringan, meredakan kekeringan panjang sekaligus menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat merebak.
Hujan ringan turun di beberapa kawasan, antara lain Kecamatan Damai, Barong Tongkok, Tering, dan Sendawar — wilayah yang belakangan ini mengalami debit Sungai Mahakam surut drastis serta kebakaran lahan di Jalan Poros Trans Kaltim, Kampung Jengan Danum, Minggu kemarin.
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud sebelumnya menargetkan operasi rekayasa cuaca berlangsung 22–27 Agustus 2026 dengan sasaran prioritas Berau, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara. Penyemaian awan menggunakan bahan natrium klorida (garam halus) dilakukan pesawat khusus untuk merangsang turunnya curah hujan.
"Alhamdulillah, hujan ringan sudah turun di beberapa titik Kutai Barat. Ini tentu sangat membantu meredakan kekeringan, menambah debit air sungai, serta membasahi lahan-lahan kering yang rawan kebakaran," ujar salah satu warga Kubar, Vina.
Kondisi ini disambut lega masyarakat, terutama Perumdam Tirta Sendawar yang tengah berjuang menjaga distribusi air bersih di tengah menyusutnya debit air baku. Pihaknya berharap hujan terus turun sehingga tidak perlu lagi memperpanjang pipa sedot di intake Royoq.
Meski curah hujan belum terlalu deras, kehadiran hujan buatan ini dinilai sangat membantu menurunkan suhu permukaan tanah dan memutus rantai kebakaran lahan yang sempat hanguskan sekitar 5 hektare di Jengan Danum. Tim teknis BMKG memantau terus perkembangan awan dan berpotensi melanjutkan operasi penyemaian jika diperlukan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mengapresiasi langkah provinsi dan pusat. Diharapkan, dengan adanya tambahan curah hujan, tekanan akibat dampak cuaca ekstrem dapat berangsur berkurang bagi seluruh masyarakat Kutai Barat. (*)