KALTIMPOST.ID, SENDAWAR - Peresmian Gereja Katolik Santo Ignasius Loyola Stasi Sembuan di Kecamatan Nyuatan, yang dihadiri oleh Bupati Kutai Barat Frederick Edwin pada Selasa (25/8/2026), membawa pesan mendalam yang jauh melampaui sekadar perayaan seremonial.
Di balik kemegahan bangunan berukuran 21,50 x 9,30 meter yang berdiri kokoh di atas lahan hibah keluarga Rudi Ignatius, tersimpan sebuah narasi kuat tentang kekuatan gotong royong dan tekad bersama dalam merawat kerukunan di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.
Dalam sambutannya, Bupati Frederick Edwin mengingatkan sebuah esensi yang kerap terlupakan dalam pembangunan rumah ibadah, kemegahan fisik bukanlah tujuan akhir.
Hal yang jauh lebih fundamental adalah bagaimana bangunan tersebut mampu menjelma menjadi wadah untuk membangun "Bait Allah yang Hidup", yakni pembentukan iman, karakter, dan moral luhur umatnya.
Baca Juga: Puluhan Pelaku Usaha PVML Kena Sanksi OJK
"Kehadiran gereja baru ini diharapkan menjadi pusat pembinaan rohani yang melahirkan generasi muda yang takut akan Tuhan, berintegritas, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah," ucap Bupati Kubar.
Pesan tersebut menegaskan pandangan bahwa pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam membangun Kutai Barat. Kemitraan yang harmonis dan inklusif dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan, merupakan pilar esensial untuk menjaga kedamaian, toleransi, serta kerukunan antarumat beragama.
Sinergi antara pemerintah dan gereja menjadi jangkar yang memastikan stabilitas sosial tetap terjaga di tengah keberagaman.
Lebih dari itu, berdirinya rumah ibadah ini merupakan buah manis dari solidaritas kolektif warga. Mulai dari kerja keras panitia pembangunan hingga keikhlasan keluarga Rudi Ignatius yang menghibahkan tanah seluas 50 x 20 meter, ditambah area tambahan seperti Tanah Nila dan Tanah Tinen Joni. Membuktikan bahwa rasa memiliki terhadap fasilitas publik lahir dari partisipasi akar rumput yang tulus.
Baca Juga: Investasi Masuk, Lahan Pangan Masyarakat Adat Kaltim Ikut Tergerus
Kini, tugas utama bagi umat dan pengurus Stasi Sembuan adalah merawat dan memelihara fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya. Harapan besar disematkan agar gereja ini tidak hanya menjadi ruang peribadatan yang eksklusif, melainkan mercusuar kasih yang memancarkan kedamaian bagi seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo