SENDAWAR- Krisis iklim bukanlah lagi ancaman abstrak yang dibahas di ruang-ruang seminar internasional. Ia telah menjelma menjadi monster nyata yang mengetuk pintu-pintu ladang rakyat, mengeringkan tanah subur, dan memadamkan bara harapan para petani kecil.
Kisah Jumadi, seorang petani cabai di Kampung Balok Asa, Kecamatan Barong Tongkok, adalah potret paling vulgar dari keganasan fenomena El Nino yang kini mencekik sektor pertanian kita. Di tengah terjangan cuaca ekstrem ini, jerih payah petani tidak lagi dihargai oleh alam, melainkan diuji sampai pada batas ketahanan mental dan finansial yang paling krusial.
Sebelum musim kemarau panjang ini merusak siklus ekologis pertanian, lahan seluas 2.000 meter persegi yang dikelola Jumadi adalah sumber penghidupan yang menjanjikan. Sekali panen, ia mampu meraup 70 hingga 80 kilogram cabai—komoditas hortikultura yang harganya kerap berfluktuasi di pasaran.
Namun, hari ini, angka produktivitas itu merosot drastis hingga titik nadir, menyisakan maksimal 10 kilogram saja. Pemandangan di ladangnya kini memilukan, tanaman layu, mati merana, dan daun-daunnya rontok sebelum waktunya akibat dehidrasi akut.
"Kekurangan air mas, untuk saat ini stop dulu tanam, lihat kondisi cuaca dulu, sementara ya kerja serabutan," ungkap Zulhamdi kepada Kaltim Post, Jumat (4/9/2026).
Keputusan pahit untuk menyetop aktivitas bercocok tanam bukanlah pilihan mudah. Itu adalah bentuk keputusasaan. Ketika air lenyap dari kolam dan sumur, pilihan yang tersisa bagi petani hanyalah beralih menjadi buruh serabutan demi menyambung hidup harian keluarga mereka.
Penderitaan petani di musim kemarau panjang ini tidak berhenti pada matinya tanaman semata. Di tengah ketiadaan sumber air alami, para petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi menyelamatkan sisa-sisa tanaman mereka atau sekadar bertahan hidup.
Bagi petani konvensional, air kini telah berubah status menjadi komoditas mewah. Mereka harus membeli air secara mandiri dengan harga yang mencekik leher—mencapai Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per tandon.
Bayangkan beban finansial yang harus ditanggung oleh petani kecil, di saat pendapatan merosot drastis akibat kegagalan panen, mereka justru dihadapkan pada biaya operasional tambahan yang membengkak hanya untuk mendapatkan air. Ini adalah lingkaran setan kemiskinan struktural yang diciptakan oleh bencana iklim.
Apa yang dialami oleh Jumadi dan para petani di Barong Tongkok bukanlah sekadar insiden lokal yang bisa diabaikan begitu saja. Ini adalah peringatan dini (early warning) bagi ketahanan pangan secara makro.
Ketika petani kehilangan modal, terbelit biaya air yang mahal, dan memilih "gantung cangkul" akibat ketiadaan air, siklus produksi pertanian nasional akan mengalami kelumpuhan. Dampaknya bersifat sistemik dan langsung dirasakan oleh masyarakat luas
Penurunan pasokan drastis, kelangkaan komoditas hortikultura di tingkat petani lokal yang memicu kekosongan pasokan di pasar tradisional. Dan lonjakan harga pangan, hukum permintaan dan penawaran akan berlaku, ketika pasokan menipis dan biaya produksi melambung, harga pangan di pasaran dipastikan meroket tajam.
Serta kerentanan ekonomi petani, petani terperangkap dalam lingkaran kerugian finansial yang dalam, memaksa mereka meninggalkan sektor agraria secara permanen demi mencari sektor pekerjaan lain.
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan petani berjuang sendirian melawan amukan El Nino. Pemerintah, Kementerian Pertanian, dan instansi terkait mutlak harus mengambil langkah intervensi darurat (quick response) untuk menyelamatkan sektor hulu pertanian dari ambang kehancuran massal.
Langkah-langkah taktis yang harus segera direalisasikan antara lain, subsidi air bersih untuk pertanian, mengingat mahalnya harga tandon air (Rp 80 ribu - 100 ribu), pemerintah wajib memberikan subsidi atau operasi distribusi air. (*)
Editor : Ismet Rifani