Konsorsium Sempekat Lestari Paparkan Program 2026–2027, Perkuat Kolaborasi Demi Manusia dan Bumi

Sunardi Kaltim Post • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 12:03 WIB
ABADIKAN MOMEN: Suasana di sela ssosialisasi konsorsium Sempekat Lestari, Kubar. (IST)
ABADIKAN MOMEN: Suasana di sela ssosialisasi konsorsium Sempekat Lestari, Kubar. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, SENDAWAR - ​Konsorsium Sempekat Lestari (KSL) menggelar sosialisasi program kerja tahun 2026–2027 di Ruang Rapat I Bappeda Litbang Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Rabu (9/9/2026). Mengusung tema Bersama untuk Manusia dan Bumi, kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi multipihak untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

​Acara dibuka secara resmi oleh Plt Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekretariat Kabupaten Kubar, Mobilala, mewakili Bupati Kubar Frederick Edwin. Sosialisasi ini menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan visi, misi, dan program KSL kepada pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan lainnya.

Baca Juga: Jembatan Lembak di Bengalon Rusak Lagi, Truk Berat Dilarang Melintas

Ketua KSL, Marselinus Mitehari menegaskan bahwa KSL hadir untuk mengelola kekayaan sumber daya alam dan manusia Kubar secara berkelanjutan melalui empat pilar utama.

"Pilar tersebut meliputi kelestarian lingkungan untuk menjaga keanekaragaman hayati, kemandirian pangan lokal guna memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, pendidikan kaum muda untuk mencetak penggerak pembangunan, serta penguatan masyarakat hukum adat dalam menjaga kearifan lokal dan warisan leluhur," ujarnya.

Menurut Marselinus, keselarasan antara lingkungan yang terjaga, pangan yang mandiri, kaum muda yang teredukasi, serta masyarakat adat yang kuat dan berdaya menjadi kunci utama bagi kemajuan daerah.

​Komitmen tersebut didukung oleh berbagai pihak melalui kerja sama nyata di tingkat tapak. Direktur WWF Mahakam Kayan Project, Sri Jimmy Kustini, menjelaskan bahwa KSL merupakan wadah kolaborasi dari berbagai lembaga dan kelompok masyarakat, seperti Kopi Kola Lestari, Pokdarwis Linggang Melapeh, Klub Sahabat Bumi Borneo (CSBB) Bongan, hingga kelompok pengolah gula semut di Kecamatan Penyinggahan.

"Pengembangan komoditas unggulan seperti kopi, lada, aren, dan pangan khas daerah diarahkan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan, " ucapnya.

Selain sektor ekonomi, perhatian juga diberikan pada generasi muda melalui penanaman karakter pembangunan berkelanjutan sejak usia sekolah agar mereka dapat tumbuh sebagai agen perubahan.

​Pemerintah Kabupaten Kubar memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi KSL tersebut. Mobilala menilai semangat Bersama untuk Manusia dan Bumi selaras dengan visi pembangunan daerah yang sejahtera, aman, adil, merata, dan beradab.

Pengembangan kopi Linggang di Linggang Melapeh dan gula semut di Penyinggahan dinilai sebagai contoh konkret bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

"Pemerintah daerah berharap produk-produk lokal terus dikembangkan kualitas dan jangkauan pasarnya dengan tetap menjadikan kelestarian lingkungan serta kearifan lokal sebagai fondasi utama," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
Frederick Edwin Pemkab Kubar program kerja kubar sosialisasi