KALTIMPOST.ID - Bupati Kutai Barat Frederick Edwin secara resmi membuka pelaksanaan Tutus Adat Tahun 2026 di Taman Budaya Sendawar (TBS), Rabu (9/9/2026). Agenda pelestarian warisan leluhur ini ditegaskan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wadah strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Prosesi adat yang digagas bersama oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan Presidium Dewan Adat Kutai Barat ini berlangsung khidmat.
Hadir mendampingi bupati, Sekretaris Daerah Erik Victory bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Dalam arahannya, Frederick Edwin mematahkan pandangan yang menilai kegiatan adat sebatas seremonial belaka. Ia menegaskan esensi Tutus Adat berakar kuat pada proses pembelajaran moral dan pembentukan karakter kepemimpinan generasi penerus.
"Di dalam prosesi dan rangkaian Tutus Adat, terkandung nilai-nilai luhur yang kian langka di era modern, antara lain kepemimpinan dan tanggung jawab untuk melatih jiwa kepemimpinan berbasis kearifan lokal, tata krama dan penghormatan untuk menanamkan adab serta rasa hormat kepada orang tua dan para tetua adat, serta gotong royong dan kebersamaan untuk memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat," ungkap Frederick.
Baca Juga: 64 Perusahaan di Kaltim Dapat Proper Merah, Senator Desak Pelanggar Lingkungan Dibuka ke Publik
Ia memaparkan tantangan besar generasi masa kini adalah menjaga relevansi diri di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai adat dihadirkan sebagai penyeimbang agar kemajuan ilmu pengetahuan berjalan selaras dengan etika ketimuran. "Generasi muda Kutai Barat dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan zaman, teknologi, dan ilmu pengetahuan, tetapi dengan catatan tidak meninggalkan jati diri," tutur Frederick.
Tanpa fondasi kebudayaan yang kokoh, modernitas dinilai berisiko mengikis kepribadian bangsa dan integritas para pemuda. Tutus Adat diharapkan dapat menjadi kompas penuntun moral agar pemuda memiliki ketahanan mental sekaligus kecintaan yang mengakar pada daerahnya. Frederick juga menekankan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya dipandang dari sudut penyediaan infrastruktur fisik. Pembentukan identitas budaya dan pembangunan karakter manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemajuan Kutai Barat.
Upaya pelestarian nilai tradisi ini pun tidak dapat diserahkan kepada para pemangku adat seorang diri. Dibutuhkan kerja sama yang terpadu dari segenap elemen, mulai dari aparatur pemerintah, pendamping, hingga tokoh masyarakat di tingkat akar rumput. Melalui internalisasi nilai-nilai luhur ini, Tutus Adat dipersiapkan sebagai investasi jangka panjang bagi daerah. Tujuannya adalah menyiapkan tongkat estafet kepemimpinan masa depan yang memiliki kecerdasan, moralitas tinggi, serta kepedulian nyata bagi kemakmuran Bumi Tanaa Purai Ngeriman. (riz)
Editor : Muhammad Rizki