KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Di sebuah sudut tenang di Kutai Kartanegara, tempat di mana alunan sungai Mahakam memecah kesunyian dengan riak-riak kecilnya, seorang musisi legendaris tengah kembali ke akar, mencoba merajut kembali benang-benang masa lalu yang pernah ia tinggalkan.
Aji Mohammad Mirza Ferdinand Hakim, atau yang lebih dikenal sebagai Icha Jikustik, kini bukan lagi sekadar sosok di balik melodi dan lirik yang melekat di hati penggemarnya. Kali ini, ia hadir sebagai seseorang yang membawa harapan baru bagi tanah kelahirannya.
Bagi banyak orang, Icha adalah personifikasi dari perjalanan sukses di dunia musik. Mengawali kariernya bersama Jikustik, band yang namanya berkibar di blantika musik Indonesia, Icha telah merasakan gemerlapnya kehidupan selebritas. Namun, di balik kemegahan panggung nasional, ia selalu merasakan ada sesuatu yang tertinggal—sesuatu yang menariknya kembali ke Kutai Kartanegara.
Di sinilah, di tanah leluhur yang menyimpan sejarah panjang keluarganya, Icha memutuskan untuk mengabdikan dirinya. Kakeknya pernah menjabat sebagai Sultan, sebuah warisan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Bagi masyarakat setempat, Icha adalah putra daerah, seseorang yang diharapkan dapat membawa perubahan. Dan harapan itu, bukan hanya untuk sekadar menghidupkan kembali masa lalu, tetapi untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik.
"Saya sebenarnya didorong oleh keluarga, kerabat, teman-teman partai, dan beberapa ormas untuk maju," ujar Icha dengan nada yang bercampur antara rasa terima kasih dan beban tanggung jawab.
Dorongan itu, menurutnya, bukan hanya karena statusnya sebagai musisi, tetapi lebih karena ia adalah bagian dari sejarah Kutai Kartanegara—sebuah warisan yang diakui dan dihormati oleh banyak pihak.
Namun, jalan yang dipilih Icha tidak serta-merta mulus. Politik, baginya, adalah medan baru yang penuh dengan intrik dan tantangan. Meskipun telah didaulat oleh banyak pihak untuk maju sebagai calon pemimpin daerah, Icha dengan bijak memilih untuk menunggu.
"Melihat konstelasi politik yang ada, saya pikir sepertinya belum saatnya saya maju," ungkapnya, menandakan bahwa meskipun ia memiliki dorongan kuat dari berbagai kalangan, ia masih menimbang dengan cermat langkah yang akan diambil.
Partai Demokrat, di mana Icha kini menjabat sebagai fungsionaris DPC Kutai Kartanegara, telah memberikan arahan untuk mendukung pasangan petahana, Bupati Edi Damansyah dan Wakil Bupati Rendi Solihin.
Icha, dengan kesetiaannya pada partai, memilih untuk mengikuti arahan tersebut. Namun, dalam hatinya, ia tidak menutup pintu untuk terjun lebih dalam ke dunia politik di masa depan. Tahun 2029 menjadi semacam titik dalam peta perjalanannya yang mungkin akan ia tuju, meskipun jalannya masih penuh teka-teki.
Selain ambisi politik, Icha juga membawa visi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara. Kembali ke kampung halaman baginya bukan hanya tentang pulang, tetapi tentang memberi kembali kepada tanah yang telah membesarkannya.
"Saya merasa tidak adil jika tidak berbuat apa-apa untuk ekonomi kreatif di tempat saya sendiri," ujarnya dengan nada tegas. Sebagai musisi yang telah berkontribusi besar dalam industri musik di Jogja dan Jakarta, ia merasa bertanggung jawab untuk menghidupkan kembali potensi kreatif di Kutai Kartanegara.
Namun, Icha sadar bahwa menghidupkan ekonomi kreatif di daerahnya bukanlah tugas yang bisa dilakukan sendirian. Ia memahami bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, ia harus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan komunitas setempat.
Masuk ke dalam sistem politik, meskipun pada awalnya terasa asing dan menakutkan baginya, menjadi langkah yang dipilih Icha agar bisa memberikan dampak yang lebih luas.
Perjalanan Icha Jikustik dari panggung nasional ke panggung politik dan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara adalah kisah tentang kembalinya seorang anak ke tanah leluhurnya dengan membawa harapan dan mimpi besar.
Bukan lagi sekadar untuk merajut kenangan lama, tetapi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Dengan semangat yang sama ketika ia merangkai lirik dan nada, Icha kini merangkai visi dan tindakan nyata untuk tanah kelahirannya. Di bawah bendera Partai Demokrat, ia bertekad memberikan yang terbaik, menyusun simfoni baru bagi Kutai Kartanegara yang lebih kreatif dan sejahtera. (*)
Editor : Thomas Priyandoko