JOGJAKARTA - Malam itu, Monumen Serangan Umum 1 Maret, tepat di jantung nol kilometer Jogjakarta, bukan hanya menjadi ruang sejarah. Ia menjelma panggung lintas budaya. Ribuan pasang mata menoleh ke satu arah. Denting irama dan warna-warni tradisi yang datang jauh dari hulu Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Keramaian ini adalah Eroh Bebaya ke-7, perhelatan budaya tahunan yang diinisiasi Ikatan Pelajar Mahasiswa (IPM) Kukar di Jogjakarta ini berawal dari kerinduan terhadap tanah Rantau. Perantau tersebut konsisten melaksanakannya secara mandiri sebagai perayaan identitas, ajang bertutur lewat seni, dan ruang silaturahmi lintas generasi.
Kini, Eroh Bebaya mendapat dukungan dari Pemkab Kukar dan tetap menjaga marwahnya melestarikan budaya dan bernostalgia. Sejak pagi, kawasan ini ramai oleh nostalgia. Permainan rakyat seperti enggrang, bakiak, hingga begasing dimainkan di trotoar kota. Di antara lalu lalang warga Jogja dan turis mancanegara, anak-anak muda asal Kukar tampil percaya diri memainkan masa kecil mereka yang tumbuh di tepian Mahakam.
Malam pun datang membawa puncak acara. Di bawah cahaya lampu dan langit Jogja yang bersahabat, tarian-tarian daerah Kutai menari di atas panggung utama. Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin turut hadir. Baginya, kehadiran di Eroh Bebaya bukan hanya kunjungan seremonial. Ini menjadi agenda luar daerah pertama pasca ia dan Bupati Aulia Rahman Basri dilantik kembali untuk periode 2025–2030.
“Kukar punya wajah lain selain tambang dan sawit. Ada seni, budaya, dan manusianya. Itulah yang ingin kami perkenalkan di sini,” kata Rendi, saat menyampaikan sambutan di hadapan masyarakat dan tamu undangan.
Rendi juga membagikan beberapa program strategis di bidang pendidikan. Salah satunya adalah penyediaan mess gratis untuk mahasiswa Kukar yang kuliah di luar daerah, termasuk Jogjakarta, Malang, Bandung, Makassar, dan Banjarmasin.
“Mereka tidak perlu bayar kos. Kami siapkan tempat tinggal dengan fasilitas yang layak. Ini bentuk dukungan nyata agar mereka fokus belajar, karena masa depan Kukar ada di tangan generasi muda,” jelasnya.
Eroh Bebaya ke-7 digelar atas kolaborasi antara mahasiswa Kukar di Jogjakarta dan Pemerintah Kabupaten, melalui Dinas Pariwisata, Dispora, serta UMKM Kukar. Sejumlah kepala dinas dan tokoh masyarakat Kaltim juga hadir, menambah kekhidmatan momen.
Bagi sebagian orang, Eroh Bebaya mungkin hanya sebuah acara tahunan. Namun bagi warga Kukar di perantauan, ia adalah peristiwa—tentang rindu yang ditata ulang lewat seni, dan harapan yang dilantunkan dalam tarian. (*)
Editor : Sukri Sikki