Hampir setiap rumah tangga memiliki keahlian membuat lewang, kerahan, tikar kecil, hingga songkok sahung. Namun, hingga kini deretan produk rotan dan bambu itu belum menemukan pasar di luar kampung.
“Anyaman di sini masih untuk kebutuhan sendiri. Sesekali ada pesanan, tapi penjualan keluar desa belum ada,” ujar Dahlia, salah satu perajin anyaman, saat ditemui Kaltim Post, Rabu (18/11).
Ia menuturkan, ritme produksi selalu mengikuti permintaan warga. Jika ada yang membutuhkan lewang atau tampah beras tradisional berbahan bambu dan rotan baru kemudian dibuatkan.
Harga per item berkisar Rp 60 ribu sampai Rp 80 ribu, tergantung ukuran. Namun itu belum cukup menjadikan menganyam sebagai mata pencaharian utama.
“Kebanyakan masyarakat tetap berladang atau membuat gula. Menganyam masih pekerjaan sampingan. Kalau pesanan mendadak dari luar, kadang kami kewalahan,” ucapnya.
Kedang Ipil dikenal memiliki ciri khas anyaman berbahan bambu dan rotan pilihan. “Ciri khas kami itu pemakaian rotan, termasuk untuk ikatannya. Hanya rotan dan bambu,” kata Dahlia. Kadang juga mereka menganyam pandan untuk dibuat tikar.
Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kaltimtara, Lestari, menyebut, teknik menganyam masyarakat Kedang Ipil memuat pengetahuan leluhur yang kompleks, mulai pemilihan bahan, waktu pengambilan, hingga fungsi setiap jenis bambu.
Mengetahui bahwa menganyam ini merupakan sebuah warisan leluhur yang perlu dipertahankan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kaltim–Kaltara memasukkan kegiatan belajar menganyam ini dalam rangkaian kegiatan Jelajah Warisan Budaya 2025. Mengajak peserta mengenali kembali tradisi yang telah lama hidup dalam keseharian masyarakat adat.
“Ini bukan sekadar kerajinan atau suvenir. Di dalamnya ada teknologi tradisional yang diwariskan turun-temurun,” terangnya.
Menurut dia, proses melipat, memotong, menakar tekanan, hingga merangkai pola merupakan ilmu yang setara dengan logika desain modern. “Kalau diarahkan, teknik ini bisa menginspirasi mereka menjadi teknokrat, peneliti, atau desainer,” ujarnya.
Meski keahlian Dahlia dan perempuan lainnya di Kedang Ipil mumpuni, pintu pemasaran belum terbuka. Tidak ada pengepul, distributor, atau kanal promosi yang menampung produksi ibu-ibu desa. Akibatnya, ekonomi anyaman hanya berputar di lingkar komunitas sendiri.
“Harapan kami ada pihak yang membantu memasarkan. Kalau ada, tentu bisa membantu ekonomi ibu-ibu,” kata Dahlia. Di sisi lain, rotan merah mulai langka. Harganya meningkat, dan perajin harus membelinya dari dusun tetangga. Kondisi ini membuat produksi semakin terbatas.
Lestari menegaskan, pengembangan kerajinan tradisional tak bisa hanya dibebankan pada lembaga kebudayaan. Perdagangan, perindustrian, hingga UMKM perlu terlibat agar potensi ekonomi bisa tumbuh.
“Kalau ingin kembali ke alam, banyak kebutuhan rumah tangga bisa dipenuhi dari produk budaya ini. Pasarnya ada. Tinggal bagaimana pemerintah memberi ruang dan dukungan,” katanya.
Menurut dia, tren hidup sehat dan ramah lingkungan justru membuka peluang baru bagi produk rotan dan bambu. Konsumen kini mulai meninggalkan plastik. “Anyaman bisa menjadi alternatif,” ujarnya.
Selain pemasaran, Lestari menekankan pentingnya menjaga akses masyarakat adat terhadap sumber daya alam (terutama rotan dan bambu) agar tradisi ini tidak berhenti di generasi sekarang.
Di Kedang Ipil, keterampilan telah diwariskan, bahan lokal masih tersedia, minat anak-anak mulai tumbuh, dan identitas budaya mengakar kuat. Yang belum hadir hanyalah jembatan menuju pasar yang lebih luas.
Jika kanal distribusi terbentuk, pelatihan usaha diperkuat, dan bahan baku terjaga, bukan tidak mungkin Lewang, songkok sahung, hingga tikar Kedang Ipil menjadi komoditas kreatif yang mengangkat ekonomi desa, bukan sekadar warisan yang dipertahankan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo