KALTIMPOST.ID-Produksi tempe rumahan di Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), menghasilkan limbah cair hingga 1.500 liter setiap hari.
Kondisi itu mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mulawarman (Unmul) memberikan pendampingan sekaligus menerapkan teknologi pengolahan limbah bagi pelaku industri rumah tangga tempe. Program tersebut berlangsung Mei hingga Agustus 2026.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unmul Muhammad Aidil Fitrah mengatakan, limbah dari Rumah Tempe yang dipimpin Mariana sebelumnya belum dikelola secara optimal.
Selain limbah cair, proses produksi juga menghasilkan sekitar 15 kilogram ampas dan kulit kedelai setiap hari yang berpotensi menimbulkan bau, endapan hingga mengganggu saluran lingkungan.
“Program yang kami jalankan berupa pendampingan pengelolaan limbah dengan memanfaatkan teknologi sederhana yang mudah digunakan oleh UMKM,” ungkapnya kepada media, Senin (10/8).
Dia menjelaskan, program bertajuk “Implementasi Teknologi Pengolahan Limbah Cair dan Padat Berkelanjutan dalam Mendorong Kemandirian UMKM Tempe Daun di Desa Loa Pari Kukar” tersebut menerapkan teknologi tepat guna yang bisa dioperasikan secara mandiri.
Kegiatan menjadi bagian skema pemberdayaan kemitraan masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 2026.
“Itu menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan industri rumah tangga dari sisi lingkungan dan ekonomi desa,” jelasnya.
Dia menerangkan, pengolahan limbah cair dilakukan melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Sistemnya meliputi penampungan dan pengendapan awal, proses biologis anaerob dan aerob, kemudian penyaringan menggunakan media filter sebelum air dibuang ke lingkungan.
“Sementara limbah padat diolah menggunakan komposter menjadi kompos dan pupuk cair. Penerapan teknologi tersebut dilengkapi sosialisasi, pelatihan, praktik pengoperasian, serta pendampingan langsung kepada mitra,” terangnya.
Dia menambahkan, tim juga membekali mitra dengan pedoman dan SOP sederhana untuk pengoperasian serta perawatan IPAL dan komposter. Tim pengabdian turut melibatkan mahasiswa Unmul dalam survei, perakitan alat, pengujian, pelatihan hingga pendampingan.
“Kami berharap program ini membantu mengelola limbah agar tidak mencemari lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan usaha dan kesejahteraan kelompok,” pungkasnya.
Sebagai informasi, program ini diketuai oleh Muhammad Aidil Fitrah dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Unmul dengan anggota Searphin Nugroho dari Teknik Lingkungan dan Vivi Filia Elvira dari Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan turut melibatkan mahasiswa Unmul, yaitu Aura Nurani Pangastiti, Nadhif Naoya, dan Rangga Aditya Pratama.
Para mahasiswa berpartisipasi dalam survei lapangan, penyusunan materi, perakitan dan pengujian alat, dokumentasi, pelatihan, serta pendampingan mitra. (rd)
Editor : Romdani.