Karhutla di Kukar Tembus 142 Kejadian, 1.304 Hektare Lahan Terbakar

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:12 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Kukar, Setianto Nugroho Aji. (IST)

 

 
Kepala Pelaksana BPBD Kukar, Setianto Nugroho Aji. (IST)    

 

TENGGARONG – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih tinggi. Sepanjang Agustus 2026, BPBD Kukar mencatat 142 kejadian dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 1.304,58 hektare.

Data itu merupakan rekapitulasi laporan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, pemerintah kecamatan, hingga sumber lain. Pendataan ditutup pada 31 Agustus 2026.

Baca Juga: Kabut Asap Semakin Pekat, Siswa SD dan SMP di Kukar untuk Sementara Belajar secara Daring

Kepala Pelaksana BPBD Kukar, Setianto Nugroho Aji mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu. Pihaknya tidak bekerja sendiri, melainkan berkoordinasi dengan TNI-Polri, relawan, pemerintah kecamatan, dan tim gabungan di lapangan.

“Untuk penanganan karhutla, kami terus berkoordinasi dengan TNI-Polri, relawan, maupun tim gabungan penanggulangan karhutla di tingkat kecamatan. Setiap ada laporan, kami koordinasikan penanganannya sesuai kondisi di lapangan dan selalu standby di posko,” ujar Setianto, Selasa (1/9/2026).

Besarnya luasan kebakaran dipicu sejumlah kejadian dengan area puluhan hingga ratusan hektare. Kecamatan Sanga-Sanga menjadi wilayah dengan luasan terbesar.

Baca Juga: Kekeringan Mengintai Petani Kutim di Awal Masa Tanam

Dari 5 kejadian, total lahan yang terbakar mencapai 354 hektare. Kebakaran terluas terjadi di Kelurahan Pendingin dengan 318 hektare. Sementara di Kelurahan Sanga-Sanga Muara dan Kelurahan Jawa masing-masing terbakar 4 dan 15 hektare.

Disusul Kecamatan Muara Muntai dengan 202 hektare dari 5 kejadian. Dua titik besar ada di Desa Kayu Batu, yakni di Muara Leka 74 hektare dan Muara Aloh 126 hektare.

Berikutnya Muara Badak mencatat 186,255 hektare dari 24 kejadian. Salah satu yang terbesar terjadi di Desa Salo Palai pada 30 Agustus dengan luasan 70 hektare.

Lalu Samboja dengan 132 hektare dari 23 kejadian, dan Muara Kaman 132,399 hektare dari 6 kejadian. Di Muara Kaman, kebakaran di Desa Sabintulung 50 hektare dan Desa Puan Cepak 80 hektare.

Baca Juga: Desak Kemendagri Tegaskan Arah Kebijakan PPPK, FORTEKIN: Jangan Biarkan Daerah Menafsirkan Sendiri

Untuk jumlah kejadian, Muara Jawa menjadi yang terbanyak dengan 26 kejadian dan total luasan 69,081 hektare. Salah satunya di kawasan Muara Jawa Tengah-Muara Jawa Ulu seluas 40,87 hektare.

Di ibu kota, Tenggarong tercatat 11 kejadian dengan total 21,2 hektare. Kebakaran terakhir terjadi 30 Agustus di Kelurahan Loa Ipuh Darat sekitar 5 hektare.

Setianto menegaskan, angka 142 kejadian dan 1.304,58 hektare itu baru berdasarkan laporan yang masuk. Sejumlah kecamatan disebut belum semua laporannya masuk, di antaranya Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana.

“Koordinasi terus kami lakukan, baik dengan TNI-Polri, relawan maupun tim gabungan yang ada di kecamatan. Kami juga terus memantau laporan dari lapangan sehingga ketika ada kejadian dapat segera ditindaklanjuti bersama,” jelasnya.

Ia memastikan pemantauan dan koordinasi penanganan tetap berjalan meski periode Agustus telah berakhir. BPBD bersama unsur terkait akan terus merespons setiap laporan karhutla yang muncul di wilayah Kukar.

“Kami tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat. Penanganan di lapangan akan terus kami lakukan bersama-sama sesuai laporan dan kondisi masing-masing wilayah,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
lahan kebakaran karhutla bpbd