TENGGARONG - Aktivitas kesenian di Kukar, kini merambah tempat terbuka dan lebih dekat dengan keseharian warga. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar memang mendorong pemanfaatan ruang publik sebagai panggung ekspresi bagi komunitas seni lokal.
Langkah ini diambil demi mengubah paradigma seni pertunjukan agar tidak melulu terkungkung dalam agenda seremonial atau panggung formal. Dengan hadir di titik-titik keramaian, kreasi para pegiat seni lokal diharapkan dapat dinikmati langsung oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Isi Kekosongan Kepsek, 89 Guru di Kabupaten Paser Digembleng dalam Diklat Calon Kepala Sekolah
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Muhammad Saidar menjelaskan, inisiatif ini dirancang guna menopang agenda pembangunan daerah sekaligus memperkuat lima pilar utama di bidang kebudayaan.
"Di bidang kebudayaan, terdapat lima program, yaitu program pengelolaan kebudayaan, kesenian tradisional, pelestarian sejarah, permuseuman, serta pengelolaan permuseuman," ujar Saidar.
Ia menegaskan bahwa ruang publik sengaja dipilih agar interaksi budaya bisa terjalin secara organik. Skema ini dirancang selaras dengan arahan kepala daerah dalam memperluas ruang berekspresi.
"Salah satu kegiatan yang mendukung program Bupati adalah ekspresi budaya. Karena itu, kami merencanakan kegiatan ekspresi budaya yang dilaksanakan di ruang publik," ucap Saidar menambahkan.
Baca Juga: Diskes Balikpapan Ajak Orangtua Hitung Napas Bayi 1 Menit untuk Deteksi Dini Pneumonia
Sejumlah titik telah menjadi panggung rutin unjuk bakat, mulai dari Taman Musik di Tenggarong hingga kawasan Kecamatan Loa Kulu. Pelaksanaannya ditopang oleh skema anggaran dan dukungan kelembagaan yang saling melengkapi.
Untuk kegiatan seni di wilayah Tenggarong, pendanaan bersumber dari bantuan anggaran bidang sejarah Disdikbud Kukar. Sementara itu, pertunjukan seni di Loa Kulu berhasil terselenggara berkat sokongan pemerintah desa setempat.
Baca Juga: Antisipasi Pemadaman Listrik, Sekolah di Kaltim Diminta Siapkan Genset untuk TKA
Bagi Disdikbud Kukar, kemitraan erat bersama para pegiat seni daerah menjadi fondasi utama agar ekosistem kebudayaan tetap lestari dan mandiri.
"Kegiatan ini sudah berjalan selama beberapa tahun. Sebagai bentuk kolaborasi kami dengan komunitas-komunitas yang ada di Tenggarong dan sekitarnya," tutup Saidar. (*)
Editor : Sukri Sikki