Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dulu Raih Penghargaan Internasional, Kini Hutan Wehea Terancam karena Jalan Rusak Parah

Jufriadi • Jumat, 19 September 2025 | 17:41 WIB

 

 

RUSAK PARAH: Kondisi jalan menuju Hutan Adat Wehea yang rusak parah. Akses vital untuk patroli penjaga hutan ini belum pernah tersentuh bantuan pemerintah.
RUSAK PARAH: Kondisi jalan menuju Hutan Adat Wehea yang rusak parah. Akses vital untuk patroli penjaga hutan ini belum pernah tersentuh bantuan pemerintah.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur selama ini dikenal dunia sebagai kawasan konservasi yang dijaga masyarakat adat Dayak Wehea.

Kawasan seluas 29 ribu hektare itu bahkan pernah meraih juara III Schooner Prize Award di Vancouver, Kanada, pada 2008. Penghargaan tersebut diberikan karena komitmen masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan. Namun, kondisi itu kini terancam. Jalan menuju kawasan hutan hampir putus. Akibatnya, aktivitas patroli dan pengawasan terganggu, bahkan nyaris lumpuh.

Ketua Petkuq Mehuey (penjaga Hutan Wehea), Yuliana Wetuq, mengungkapkan kondisi jalan sudah parah sejak enam bulan lalu.

“Ada yang mau putus sudah jalannya itu tinggal tinggal sedikit aja. Kalau hujan terus, lama-lama enggak bisa dilewati lagi. Ada yang sudah retak di tengahnya pas turun gunung,” ujarnya.

Kerusakan itu berdampak langsung pada kegiatan penjaga hutan. Lubang-lubang besar membuat kendaraan roda dua maupun roda empat cepat rusak. Padahal, mobil dan motor menjadi satu-satunya alat transportasi untuk masuk ke hutan.

“Karena banyak lubang dalam-dalam, otomatis mobil rusak, motor rusak. Kalau semua rusak, kita aksesnya bagaimana? Untuk nge-drop bahan bakar, untuk logistik, itu semua jadi terhalang,"  jelas Yuliana.

Ia menambahkan, rusaknya jalan membuat patroli hutan terganggu. “Patroli juga terhalang. Semuanyalah itu kalau jalan tidak diperbaiki. Mau jaga hutan saja jadi susah,” katanya.

Berbagai upaya sudah dilakukan agar akses segera diperbaiki. Proposal telah diajukan ke perusahaan sejak Mei, namun belum ada hasil berarti.

“Ada yang mau bantu, ada yang enggak. Jadi enggak kompak gitu. Cuma yang bantunya BBM sama damp truk, ya enggak bisalah. Kalau bukan alat beratnya yang masuk,” keluhnya.

Sayangnya, hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah daerah. Selama ini, para penjaga hutan hanya mengandalkan dukungan swadaya masyarakat.

“Karena selama ini pemerintah kabupaten juga tidak pernah bantu kami. Ya, kami mengharapkannya dari hutan lindung itu karena kami kan tidak seperti pemerintah yang punya anggaran seperti itu. Tapi itu kami betul-betul nol,” ucap Yuliana.

Ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi ini. “Maksud kami itu, tolonglah dibantu entah itu operasionalnya, perbaikan jalannya, supaya hutan itu tetap terjaga, hutan itu tetap aman. Kalau tidak dijaga, hutan itu akan habis,” tegasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Schooner Prize Award #Hutan Lindung Wehea Kutim #jalan rusak parah