Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Jembatan Ulin di Tepian Indah Kutim Ambrol, Mobilitas Warga dan Petani Sawit Terhenti

Jufriadi • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:39 WIB
AKSES UTAMA: Jembatan kayu ulin di RT 21 Tepian Indah ambrol akibat hujan deras, membuat akses utama warga menuju kebun dan permukiman terputus total.
AKSES UTAMA: Jembatan kayu ulin di RT 21 Tepian Indah ambrol akibat hujan deras, membuat akses utama warga menuju kebun dan permukiman terputus total.

SANGATTA — Akses utama warga di RT 21, Dusun 6, Desa Tepian Indah, Bengalon, Kutai Timur (Kutim) terputus total. Jembatan kayu ulin di kawasan tersebut amblas setelah hujan deras mengguyur wilayah itu beberapa hari terakhir.

Jalur itu merupakan satu-satunya akses masyarakat menuju lahan perkebunan dan beberapa permukiman di bagian dalam desa.

Jembatan tersebut jebol pada Sabtu, (6/12) malam lalu. Hujan yang mengguyur selama empat hari berturut-turut menyebabkan longsoran di sisi badan jembatan, membuat struktur turun dan tak lagi bisa dilalui kendaraan.

Kepala Desa Tepian Indah, Quirinus Parwono Rasi, menyebut kerusakan itu langsung menghentikan mobilitas warga, terutama petani sawit.

“Jembatan itu satu satu-satunya akses masyarakat untuk mengeluarkan hasil perkebunannya salah satunya sawit. Sekarang rusaknya sudah parah dan sudah jebol karena longsor,” ujarnya, Selasa (9/12).

Quirinus mengatakan, meski hanya terdapat lima hingga enam rumah di area terdalam, hampir seluruh kebun warga berada di wilayah belakang jembatan. Tanpa akses alternatif, kegiatan angkut hasil pertanian pun terhenti total.

Jembatan yang memiliki lebar sekitar empat meter dan panjang tujuh meter itu diketahui berusia cukup tua.

Sejak pertama dibangun, bahkan sebelum Tepian Indah berstatus desa persiapan belum pernah ada perbaikan. Catatan tahun pembangunannya pun tidak ditemukan di arsip desa.

Selain kerusakan jembatan, debit sungai di sekitar wilayah juga meningkat dua hari terakhir. Meski ancaman banjir dinilai kecil setelah normalisasi aliran sungai pada Oktober lalu, beberapa titik tanggul yang masih jebol menjadi perhatian.

Quirinus menyebut normalisasi sebelumnya belum cukup lebar untuk menahan peningkatan debit air ketika hujan turun.

“Memang perlu diperbaiki lagi, karen pekerjaan normalisasi itu pun kalau saya lihat tidak terlalu lebar. Sehingga membuat air itu terus menumpuk naik,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah kabupaten segera mengambil langkah cepat. “Supaya perekonomian warga itu tetap berjalan dengan lancar. Itu harapannya,” tutupnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
#petani sawit #lahan perkebunan #kutai timur #jembatan kayu