SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menargetkan peningkatan populasi ternak lokal melalui Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan). Program ini difokuskan pada pemanfaatan teknologi inseminasi buatan untuk meningkatkan jumlah kelahiran ternak di dalam daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Peternakan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Cut Meutia, mengatakan bahwa program tersebut diarahkan untuk menghasilkan minimal 100 ekor pedet dari hasil rekayasa reproduksi.
Pedet merupakan anak sapi yang baru lahir hingga berusia beberapa bulan, yang menjadi indikator awal keberhasilan program pengembangbiakan ternak.
Upaya ini dilakukan dengan memaksimalkan inseminasi buatan pada indukan yang telah didistribusikan kepada peternak. Dengan metode tersebut, peningkatan populasi ternak diharapkan dapat tercapai tanpa harus mendatangkan bibit dalam jumlah besar dari luar daerah.
“Target kami tahun ini adalah, melihat hasil nyata dari indukan yang didistribusikan di Rantau Pulung. Kami menargetkan sebanyak 100 ekor anakan hingga akhir tahun 2026,” harapnya.
Menurut Cut Meutia, peningkatan populasi ternak lokal tidak hanya bertujuan menambah jumlah sapi, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pasokan daging dari daerah lain. Dengan ketersediaan ternak yang mencukupi di dalam daerah, kebutuhan protein hewani masyarakat diharapkan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Selain itu, ketersediaan stok ternak lokal juga dinilai mampu meredam gejolak harga, khususnya saat momen hari besar keagamaan. Biaya distribusi dan transportasi dari luar daerah yang selama ini memengaruhi harga daging dapat ditekan jika pasokan berasal dari wilayah sendiri.
Dari sisi kesehatan hewan, program ini juga dinilai lebih aman. Produksi bibit ternak di dalam daerah dapat mengurangi risiko masuknya penyakit yang kerap terbawa melalui pengiriman ternak lintas wilayah.
“Swasembada adalah kunci utama agar kita tidak rentan terhadap serangan wabah yang sering kali muncul secara tiba-tiba dari luar daerah,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan