Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Orang Utan yang Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim Akhirnya Ditemukan, Begini Kondisinya...

Jufriadi • Rabu, 28 Januari 2026 | 18:58 WIB
Penyelamatan orang utan dilakukan oleh tim BKSDA Kaltim bersama sejumlah mitra untuk selanjutnya dilepasliarkan.
Penyelamatan orang utan dilakukan oleh tim BKSDA Kaltim bersama sejumlah mitra untuk selanjutnya dilepasliarkan.

SANGATTA – Seekor orang utan (Pongo pygmaeus) yang sempat terekam berada di pinggir jalan poros Kutai Timur (Kutim) akhirnya berhasil diselamatkan, Rabu (28/1).

Satwa dilindungi itu awalnya terekam di sekitar tempat pembuangan sampah dan terlihat memakan sisa-sisa makanan di lokasi itu.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengatakan penyelamatan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 09.30 WITA setelah upaya pencarian di sepanjang Jalan Poros Perdau–Muara Wahau dan kawasan underpass PT PAMA.

Orang utan itu ditemukan dalam keadaan sehat. Usianya diperkirakan antara 18 hingga 20 tahun.

Menurut Ari, orang utan tersebut tergolong jantan dewasa. Upaya penyelamatan dilakukan karena satwa itu mulai menunjukkan perubahan perilaku dengan berada di luar habitat alaminya dan mengais makanan di sekitar jalan.

"Cukup dewasa dan dalam kondisi sehat," ujarnya saat dikonfirmasi.

Penyelamatan dilakukan oleh tim BKSDA Kaltim bersama sejumlah mitra, antara lain Conservation Action Network (CAN), Conservation Orangutan Protection (COP), serta dukungan dari perusahaan tambang sekitar lokasi.

Setelah dievakuasi, orang utan tersebut rencananya akan segera dilepasliarkan. Ari menyebut, karena kondisi satwa masih sehat dan wilayah jelajahnya dinilai masih tersedia, pelepasliaran akan dilakukan pada hari yang sama.

“Rencananya akan kami lepasliarkan hari ini juga ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di wilayah Busang,” jelasnya.

Ari juga menyinggung fenomena meningkatnya laporan keberadaan Orang Utan di pemukiman dan pinggir jalan. Menurutnya, untuk kasus di pemukiman, umumnya orang utan masih berada dalam kondisi relatif aman dan hanya mengambil buah-buahan milik warga.

“Informasi yang kami terima, masyarakat tidak memberikan makanan. Orang utan hanya mengambil buah yang ada dan warga juga memahami itu bagian dari habitatnya,” katanya.

Namun, berbeda dengan temuan orang utan di pinggir jalan yang mengais sampah. Menurut Ari, kondisi tersebut menjadi tanda awal terjadinya perubahan perilaku yang perlu segera ditangani.

“Menurut kami mulai ada perubahan perilaku. Biasanya mencari makan dalam hutan, sekarang mereka mencari makan di pinggir jalan. Ini tanda awal mungkin harus diselamatkan supaya keliarannya masih ada,” tegasnya.

Ia menjelaskan, orang utan jantan dewasa memang lebih sering ditemukan di darat karena sifatnya yang menjelajah. Sementara betina umumnya masih aktif bergerak di atas tajuk pohon.

“Paling banyak yang jantan kita selamatkan, terutama jantan dewasa. Karena mereka memang berpetualang,” tuturnya.

 

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#orang utan #hutan lindung #kutai timur #bksda