Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pasar Tumpah di Sangatta Selatan Belum Tertata, Disperindag Kutim Akui Terkendala Anggaran

Jufriadi • Kamis, 12 Februari 2026 | 13:55 WIB

 

SEMRAWUT: Kondisi pasar tumpah di Sangatta Selatan, Kutim, yang hingga kini belum tertata.
SEMRAWUT: Kondisi pasar tumpah di Sangatta Selatan, Kutim, yang hingga kini belum tertata.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Masalah pasar tumpah di Kutai Timur (Kutim) belum menunjukkan perkembangan berarti. Aktivitas jual beli yang berlangsung di badan jalan, terutama di wilayah Sangatta Selatan, masih menjadi penyebab kemacetan harian.

Upaya penertiban telah dilakukan, namun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim menyatakan bahwa langkah tersebut terhambat oleh ketiadaan anggaran untuk menyediakan lokasi relokasi yang layak.

Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, menilai penataan tidak dapat dijalankan tanpa alternatif tempat bagi para pedagang.

“Kita bukan sekadar melarang atau membongkar tetapi kita harus memberikan mereka tempat untuk berjualan. Nah, dalam hal ini Disperindag pada saat itu terkendala anggaran,” ujarnya.

Kondisi keuangan yang terbatas juga berdampak pada pengawasan kebutuhan pokok di 11 pasar yang berada di wilayah Kutim. Dari seluruh pasar tersebut, hanya Pasar Sangatta Utara yang dinilai sudah memiliki sarana memadai.

Sementara pasar di kecamatan lain dinilai belum layak, sehingga sebagian pedagang memilih berjualan di luar area pasar resmi.

Benita menyebut, pembangunan fasilitas dasar pun belum dapat dilakukan.

“Boro-boro membangun pasar, membangun sapras pun dan untuk operasional dan kegiatan di lapangan kami tidak ada anggaran,” ungkapnya.

Selain persoalan kemampuan anggaran, aspek teknis di lapangan turut menjadi pertimbangan. Pedagang ayam di kawasan Jalan Dayung dan Kabo, misalnya, menghadapi selisih harga beli dari distributor serta risiko penyusutan bobot barang selama perjalanan. Kondisi itu membuat harga jual di luar pasar induk kerap lebih rendah dibanding pedagang yang berjualan di dalam pasar.

“Kalau mereka masuk di pasar induk dengan jual yang harga murah, sementara yang di dalam pasar induk itu berbeda harganya. Otomatis hasil dagang mereka ini enggak laku,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemeriksaan rutin yang dilakukan petugas tidak akan menghasilkan perubahan apabila tidak disertai pembenahan fasilitas dan dukungan kebijakan anggaran.

“Jangan cuma ada rencana dan program, kalau tidak didukung anggaran itu omong kosong. Kami sudah jungkir balik bekerja, tapi kalau tidak didukung anggaran yang ada, ya percuma,” tegasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#kebutuhan pokok #Keterbatasan Anggaran #disperindag kutim #kutai timur #pasar tumpah #Sangatta Selatan