SANGATTA – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai mendapat perhatian publik. Muncul sejumlah pertanyaan dari warga mengenai posisi koperasi merah putih, apakah benar dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat atau berpotensi menyingkirkan koperasi yang sudah lebih dulu berjalan di Kutai Timur (Kutim).
Di Kutim sendiri, dari 141 desa dan kelurahan, sudah 109 yang menyiapkan lahan KDKMP dan 87 di antaranya telah memulai pembangunan.
Sedangkan koperasi lokal tercatat sebanyak 1.450. Namun hanya sekitar 500 yang masih dinilai sehat. Mayoritas lainnya masuk kategori kurang sehat hingga tidak sehat karena tidak lagi menjalankan fungsi kelembagaan secara normal.
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kutim menegaskan kehadiran program tersebut tidak akan mengganggu koperasi lokal.
Kepala Diskop UKM Kutim, Teguh Budi Santoso, memastikan bahwa struktur dan sasaran Koperasi Merah Putih berbeda dengan koperasi yang telah ada.
“Tidak ada tumpang tindih. Karena koperasi yang ada selama ini lebih banyak koperasi perkebunan. Anggotanya kebanyakan dari karyawan perusahaan perkebunan sawit,” tegas Teguh.
Selama ini, koperasi di Kutim memang bergerak di sektor perkebunan. Kegiatan dan keanggotaannya juga cenderung terbatas di lingkungan perusahaan sawit.
Kondisi tersebut kata teguh membuat ruang gerak koperasi lokal lebih fokus pada kebutuhan internal para pekerja.
KDKMP hadir dengan arah yang lebih luas. Teguh menjelaskan bahwa koperasi ini dibentuk untuk membuka kesempatan bagi warga yang belum terakomodasi oleh koperasi yang sudah ada. Mulai dari pelaku UMKM, kelompok usaha desa, hingga masyarakat umum.
“Koperasi Merah Putih ini lebih mengarah pada pemberdayaan masyarakat secara umum. Jadi bukan mengambil peran koperasi yang sudah ada,” ujarnya.
Diskop UKM Kutim menegaskan bahwa pembinaan terhadap koperasi lama tetap dilakukan. Di sisi lain, koperasi-koperasi baru dalam program Merah Putih akan diarahkan agar berjalan profesional dan transparan sesuai prinsip koperasi.
Harapannya, program ini bisa membantu menggerakkan usaha masyarakat secara lebih merata dan memberikan dampak ekonomi yang nyata.
“Kami ingin koperasi ini jadi penguat ekonomi masyarakat. Bukan bersaing, tapi saling melengkapi,” pungkas Teguh.
Editor : Muhammad Ridhuan