SANGATTA – Penilaian Adipura Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tercatat menurun jauh dibanding capaian tahun 2014.
Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah daerah merancang pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) di seluruh kecamatan.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman tidak menutupinya. Penurunan nilai dinilai cukup drastis hingga membuat Kutim jauh dari kategori Adipura.
“Jadi sekarang nilainya sudah jauh dari adipura. Di 2014 Kutim pernah mendapatkan. Tapi tahun ini nilainya di bawah,” ungkapnya, Senin (23/2).
Turunnya skor juga berkaitan dengan keluarnya skema penilaian Adipura terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Sistem yang kini berlaku memberikan bobot 50 persen pada pengelolaan sampah, 20 persen pada anggaran dan kebijakan daerah, serta 30 persen pada kesiapan SDM dan infrastruktur.
Dengan formula itu, rapor lingkungan Kutim tak lagi ditentukan oleh kondisi Sangatta saja, tetapi seluruh kecamatan. Hal inilah yang membuat Pemkab mengubah pendekatan.
“Ternyata penilaian bukan hanya di Sangatta saja. Semua kecamatan juga menjadi penilain, jadi harus kami rencanakan dengan baik,” ujarnya.
Selain pembangunan TPA di tiap kecamatan, Pemkab mengandalkan program lokal seperti kampung bersemi dan gerakan Jumat bersih.
Fokusnya tetap sama untuk menekan volume sampah dari sumber, memperkuat peran masyarakat, dan memperluas praktik pemilahan serta daur ulang.
Ardiansyah meyakini Kutim masih bisa mengejar ketertinggalan apabila langkah-langkah tersebut berjalan konsisten.
"Mudah-mudahan penilaian pengelolaan lingkungan Kutim dapat meningkat. Sehingga masyarakat juga dapat merasakan lingkungan yang bersih dan nyaman,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani