SANGATTA - Isu pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan atau panic buying mulai mencuat di sejumlah daerah menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran gangguan pasokan energi global turut memicu spekulasi di tengah masyarakat.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan kondisi di daerah masih terkendali. Hingga kini, pembelian BBM oleh masyarakat dinilai masih dalam batas wajar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadani, mengatakan peningkatan konsumsi BBM yang terjadi belakangan ini lebih berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Pemkab Kutim Siapkan Operasi Pasar Murah Tekan Inflasi
“Kalau disebut panic buying sebenarnya belum ada,” ujar Nora. Ia menyebut pemerintah daerah telah melakukan langkah antisipasi sejak sebelum memasuki Ramadan.
Atas arahan Bupati, Disperindag telah menyurati pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) agar memastikan ketersediaan stok selama Ramadan hingga Lebaran.
Menurutnya, periode hari besar keagamaan biasanya diikuti peningkatan mobilitas masyarakat yang berdampak pada konsumsi energi. Karena itu, pengelola SPBU diminta menjaga distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Jadi jauh hari sebelumnya kami sudah mengingatkan pihak SPBU agar menjaga distribusi BBM supaya kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Baca Juga: 10 Usulan Desa Pemekaran Kutim Lolos Verifikasi Kemendagri, Miau Baru Utara Tertahan Batas Wilayah
Selain memantau distribusi BBM, Disperindag juga mengawasi ketersediaan gas LPG 3 kilogram. Berdasarkan pemantauan di lapangan, distribusi dari agen ke pangkalan masih berjalan normal tanpa adanya pengurangan kuota.
Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan agen dan pihak terkait untuk memastikan distribusi energi rumah tangga tetap lancar selama Ramadan.
Terkait potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi, Nora menilai hal tersebut merupakan isu di tingkat nasional. Meski begitu, pemerintah daerah tetap memantau perkembangan situasi.
“Sampai sekarang masyarakat masih membeli BBM sesuai kebutuhan. Tidak ada yang membeli dalam jumlah besar untuk disimpan,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang belum tentu berdampak langsung ke daerah. “Stok masih terjaga dan distribusi juga berjalan normal. Jadi masyarakat tidak perlu panik dan cukup membeli sesuai kebutuhan,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki