SANGATTA – Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ke level 1,05 persen pada 2025 menjadi sorotan. Salah satu langkah yang dinilai mendesak dilakukan adalah memperkuat peran badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai penopang ekonomi.
Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menyebut struktur ekonomi Kutim saat ini masih didominasi sektor pertambangan, dengan kontribusi mencapai 70 persen. Kondisi tersebut membuat daerah rentan terhadap fluktuasi pasar global.
“Daerah seperti Kutim ini sangat tergantung pada sumber daya alam. Kalau permintaan dari luar, seperti China atau India, turun, dampaknya langsung terasa ke daerah,” ujarnya, Senin (23/3).
Menurutnya, ketergantungan ini perlu segera diimbangi dengan penguatan sektor lain, termasuk melalui optimalisasi peran BUMD. Namun hingga kini, kontribusi BUMD terhadap pendapatan asli daerah (PAD) dinilai belum signifikan.
“Selama ini daerah hanya jadi penonton. Sumber daya alamnya besar, tapi yang menikmati justru pihak luar,” ujarnya.
Ia menilai, BUMD seharusnya bisa untuk meningkatkan kemandirian ekonomi daerah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dana transfer pusat maupun sektor tambang.
Selain itu, Purwadi juga menyoroti dampak kebijakan fiskal, khususnya pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH), yang mempersempit ruang gerak pemerintah daerah dalam belanja.
“DBH itu hak daerah. Ketika dipangkas, otomatis kemampuan daerah untuk belanja juga turun,” katanya.
Menurutnya, penguatan BUMD harus dilakukan secara profesional dan terarah agar mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah.
Ia mengingatkan, tanpa upaya diversifikasi dan penguatan sektor alternatif, perlambatan ekonomi akan terus berulang, terutama saat harga komoditas global melemah.
“Ini yang berbahaya. Struktur ekonomi seperti ini membuat daerah tidak punya bantalan ketika terjadi guncangan,” tegasnya.
Purwadi menekankan, momentum perlambatan ekonomi saat ini harus dimanfaatkan pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan, termasuk mendorong BUMD agar lebih berperan dalam perekonomian.
“Kalau tidak ada pembenahan, pola seperti ini akan terus terjadi. Naik tinggi saat booming, lalu turun lagi ketika kondisi global berubah,” pungkasnya. (*)