KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur (Kutim) menargetkan kunjungan 12 ribu wisatawan dalam Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026 yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau.
Tradisi tahunan masyarakat Dayak Wehea ini berlangsung cukup panjang, mulai 23 Maret hingga 29 April 2026. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kutim, Akhmad Rifanie, mengatakan target tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 10 ribu pengunjung.
Perhitungan dilakukan secara akumulatif sejak awal hingga akhir rangkaian kegiatan, bukan hanya saat puncak acara. Ia menjelaskan, lonjakan pengunjung biasanya terjadi mendekati puncak acara, yakni sekitar tiga hari sebelum dan sesudah puncak Lom Plai.
Meski demikian, wisatawan juga datang secara bertahap mengikuti rangkaian ritual adat. “Kami inginnya lebih dari tahun kemarin 10.000. Mungkin kali ini kami naikkan 2.000. Jadi 12.000 pengunjung,” ujarnya, Selasa (24/3).
Menurut Rifanie, jumlah pengunjung tidak dapat dihitung secara pasti karena festival ini tidak menerapkan sistem tiket. Akses terbuka membuat wisatawan bisa datang dari berbagai arah dan mengikuti kegiatan tanpa pembatasan. “Karena kita tidak pakai tiket, orang dari mana saja bisa melihat itu,” katanya.
Untuk itu Dispar Kutim telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya menerbitkan surat edaran kepada pelaku usaha, mulai dari hotel hingga rumah makan, agar bersiap menyambut lonjakan tamu.
Selain itu, pihaknya juga mendorong pemasangan spanduk dan media promosi di sejumlah titik, termasuk melibatkan perbankan, radio lokal hingga media sosial untuk promosi.
“Kita minta mereka membuat semacam informasi atau dukungan melalui media sosial mereka masing-masing,” tambahnya.
Festival Lom Plai 2026 juga semakin diperkuat dengan masuknya dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Status tersebut dinilai menjadi peluang meningkatkan eksposur budaya Dayak Wehea di tingkat nasional.
Berbagai kegiatan pendukung pun disiapkan, seperti lomba foto, lomba video, hingga pameran UMKM. Strategi ini diharapkan mampu menarik partisipasi lebih luas, termasuk dari kalangan fotografer dan konten kreator.
“Jadi kita berharap nanti peserta-peserta lomba foto dengan video ini mereka datang ke sana. Itu salah satu strategi kita,” jelas Rifanie.
Puncak acara Lom Plai dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026 melalui ritual Bob Jengea. Namun, aktivitas festival tetap berlanjut hingga beberapa hari setelahnya dengan berbagai kegiatan tambahan.
Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Desa Nehas Liah Bing. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai memiliki akses yang relatif mudah serta didukung fasilitas penunjang seperti penginapan dan rumah makan.
“Pertimbangannya, banyak akses yang mudah, hotel, rumah makan dan segala macam itu agak dekat dengan kegiatan,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo