Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Beruang Madu Muncul di Kutim, BKSDA Pasang Kandang Jebak di Dekat Permukiman

Jufriadi • Senin, 6 April 2026 | 08:42 WIB
BKSDA Kaltim memasang kandang jebak untuk menangani kemunculan beruang madu di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kutai Timur. (DOK/BKSDA KALTIM)
BKSDA Kaltim memasang kandang jebak untuk menangani kemunculan beruang madu di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kutai Timur. (DOK/BKSDA KALTIM)

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kemunculan beruang madu di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kutai Timur, mendapat penanganan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Untuk menangani satwa liar tersebut, BKSDA mengandalkan metode kandang jebak yang dipasang di jalur yang diduga sering dilalui beruang, terutama di sekitar permukiman warga.

Langkah ini diambil setelah laporan masyarakat terkait aktivitas beruang di area tersebut diterima pada 31 Maret 2026. Sehari kemudian, tim langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal.

Baca Juga: Mangkrak 3 Tahun, Puskesmas Dilang Puti Dilanjutkan dengan Anggaran Rp7,1 Miliar

Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, mengatakan pemasangan kandang jebak menjadi metode utama dalam proses evakuasi tanpa melukai satwa.

“Perintah dari kepala seksi langsung kami tindak lanjuti. Tanggal 1 kami sudah turun ke lokasi untuk pengecekan dan penanganan awal,” ujarnya, Minggu (5/4).

Menurutnya, perangkap dipasang di titik yang diduga menjadi lintasan beruang, khususnya di area perbatasan antara permukiman, sungai, dan hutan.

Metode ini dipilih karena karakter beruang madu yang sensitif terhadap kehadiran manusia dan lebih aktif pada malam hari. Kondisi ini membuat penanganan dengan pembiusan langsung menjadi sulit dilakukan.

“Kendala kami, beruang ini aktif pada malam hari. Siang hari jarang terlihat, dan kalau tahu ada manusia langsung kabur, sehingga sulit jika menggunakan pembius,” jelasnya.

Baca Juga: Hebat! Lolos SNBP Naik, SMA 2 Bontang Kirim 44 Siswa ke PTN

Ia menambahkan, penggunaan kandang jebak membutuhkan waktu karena bergantung pada pergerakan dan pola makan satwa tersebut.

“Pengalaman sebelumnya di Senoni juga menggunakan metode yang sama dan membutuhkan waktu cukup lama hingga berhasil,” katanya.

Selain memasang perangkap, BKSDA juga melakukan pemantauan rutin di lapangan serta memberikan edukasi kepada warga mengenai cara menghadapi satwa liar.

Masyarakat diimbau untuk tidak mengganggu beruang madu karena satwa tersebut dilindungi. Jika bertemu, warga diminta mengusirnya secara aman tanpa melakukan tindakan berbahaya.

Hingga saat ini, jumlah beruang yang muncul belum dapat dipastikan karena masih berdasarkan laporan warga dan temuan jejak di lapangan.

BKSDA memastikan penanganan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan warga sekaligus menjaga kelestarian satwa liar. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#beruang madu Kutim #Desa Marah Haloq #konflik satwa liar #kandang jebak #BKSDA Kaltim