SANGATTA - Momentum Hari Kartini 21 April tak selalu dirayakan dengan seremoni. Bagi Arum Puspitaningtyas, momen ini justru menjadi pengingat tentang perjuangan perempuan memberi manfaat bagi sekitar.
Founder Sunyi Bermakna (Sukma), komunitas pendampingan anak tunarungu di Kutai Timur (Kutim) itu memulai langkahnya dari kegelisahan sederhana saat mulai menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB) Negeri Kutim 2021 lalu.
Ia menemukan fakta, sebagian siswa tunarungu yang ia dampingi masih memiliki keterbatasan kosakata, bahkan untuk hal dasar seperti mengenali nama sendiri.
“Saya kaget, masa anak tidak tahu konsep nama. Setelah saya kunjungi beberapa siswa, ternyata masalahnya sama,” ujarnya, Selasa (21/4).
Kondisi itu menjadi titik awal lahirnya Sukma. Alih-alih membuka les berbayar, Arum memilih membangun kelas belajar bersama yang melibatkan orang tua.
“Saya ajak orang tua belajar bareng. Kita tidak buat berbayar, tapi sama-sama mendampingi anak,” katanya.
Kelas tersebut kemudian mendapat dukungan tempat dari salah satu hotel di Sangatta dan mulai berjalan sejak 2022. Awalnya difokuskan untuk anak tunarungu, namun kini berkembang menjadi ruang belajar terbuka.
Tujuan utamanya kata Arum, yakni membantu anak mengejar ketertinggalan kosakata agar lebih mudah mengikuti pembelajaran di sekolah.
Seiring waktu, kegiatan Sukma berkembang. Tak hanya kelas isyarat, Arum mulai menginisiasi berbagai pelatihan keterampilan seperti barista, fotografi, hingga pembuatan konten digital dengan melibatkan pelaku usaha dan perusahaan.
“Kita kolaborasi dengan banyak pihak. Karena kegiatan ini sosial, jadi lebih ke gotong royong,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Sukma juga mendorong konsep wisata inklusif dengan menghadirkan pemandu menggunakan bahasa isyarat. Anak-anak tunarungu dilibatkan untuk mengenal budaya sekaligus berinteraksi dengan masyarakat luas.
Dari sekitar 20 peserta, kini sudah ada lima anak yang mampu menjadi pengajar di kelas isyarat.
“Setelah satu tahun, ada yang sudah bisa jadi mentor. Mereka mulai percaya diri untuk mengajar,” ucapnya.
Di balik itu, Arum mengakui tantangan terbesarnya justru pada pembagian waktu sebagai perempuan yang juga berperan sebagai pekerja, istri, dan ibu.
“Saya harus bisa bagi waktu antara kerja, keluarga, dan kegiatan sosial. Alhamdulillah suami mendukung,” katanya.
Bagi Arum, makna R.A. Kartini bukan sekadar emansipasi dalam arti menjadi pemimpin, melainkan keberanian untuk terlibat dan memberi manfaat.
“Kita tidak harus menunggu jadi hebat dulu untuk bermanfaat. Yang penting kita bergerak dan memberi dampak,” tuturnya.
Ia pun mengajak perempuan di Kutim untuk tidak ragu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial, meski tanpa harus tampil di depan.
Baginya, langkah kecil yang konsisten justru bisa membawa perubahan besar yang sejalan dengan semangat Kartini yang terus relevan hingga hari ini.
"Semoga setiap langkah kita membawa perubahan positif bagi sekitar. Karena tantangan yang kita hadapi menjadi jalan untuk kita berkembang. Karena perempuan berdaya adalah kunci masa depan bangsa," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani