Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Puluhan Tahun Menanti Jembatan, Warga Busang-Kutim Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai  

Jufriadi • Kamis, 23 April 2026 | 11:54 WIB
Sejumlah anak sekolah menyeberangi sungai dengan perahu di Desa Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutim. (IST)

 
Sejumlah anak sekolah menyeberangi sungai dengan perahu di Desa Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutim. (IST)  

 

SANGATTA - Penantian panjang warga Kampung Long Joq, Desa Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutai Timur, terhadap pembangunan jembatan penghubung belum juga terjawab.

Selama puluhan tahun, warga masih bergantung pada perahu untuk menyeberangi sungai demi menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga membahayakan, terutama bagi anak-anak sekolah yang harus menyeberang setiap hari untuk mengakses pendidikan di kampung seberang.

Warga setempat, Farida menyebut persoalan ini sudah berlangsung lintas generasi. “Dari zaman orang tua kami masih pakai perahu dayung, lalu beralih ke ketinting sampai sekarang. Tapi jembatan yang dijanjikan belum juga ada,” ujarnya, (23/4).

Kampung Long Joq sendiri merupakan bagian dari Desa Long Bentuq yang posisinya terpisah oleh sungai. Sementara itu, wilayah seberang seperti Long Bentuq dan Rantau Sentosa telah memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap, mulai dari listrik, sekolah, puskesmas, hingga kantor pemerintahan.

Akibatnya, seluruh aktivitas penting warga Longjok, termasuk pendidikan anak-anak dari tingkat TK hingga SMA, harus dilakukan dengan menyeberang sungai.

Baca Juga: Usul Revitalisasi Pasar Inpres Gunakan APBN, Dinas Perdagangan Tunggu Kepastian  

Untuk sekali penyeberangan, anak sekolah tanpa kendaraan dikenakan biaya sekitar Rp2 ribu pulang-pergi, sementara yang membawa motor bisa mencapai Rp 10 ribu. Warga umum bahkan bisa membayar hingga Rp 20 ribu.

Namun, persoalan terbesar bukan hanya soal biaya, melainkan keselamatan. Saat debit air sungai meningkat, aktivitas penyeberangan menjadi semakin berisiko. “Kalau air naik, biasanya anak-anak diliburkan. Tapi kalau ujian, tetap harus menyeberang walaupun risikonya besar,” kata Farida.

Ia juga mengingat peristiwa tragis pada 2003 lalu, ketika perahu yang mengangkut siswa terbalik dan menyebabkan dua anak meninggal dunia. Meski usulan pembangunan jembatan telah berulang kali disampaikan, hingga kini belum ada realisasi nyata.

Janji pembangunan bahkan kerap muncul saat momentum politik, namun belum berbuah hasil. Meski demikian, Farida menegaskan bahwa kondisi ini merupakan persoalan lama yang telah berlangsung sejak pemerintahan sebelumnya.

Ia tidak ingin menyalahkan pemerintah saat ini, melainkan berharap adanya perubahan. “Ini masalah yang sudah berlarut-larut dari dulu. Kami tidak ingin menyalahkan pemerintah sekarang. Justru kami berharap besar, semoga pemerintahan saat ini bisa membawa perubahan dan memperbaiki keadaan yang sudah lama kami nantikan,” tuturnya.

Baca Juga: M Yusuf Sumako Kembali Pimpin KKSS Paser Periode 2026-2031

Selain jembatan, warga juga masih menghadapi keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi di wilayah Long Jok. Sementara di seberang, seluruh fasilitas dasar sudah tersedia. (*)

Editor : Sukri Sikki
#sekolah #kutai timur #jembatan