Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pulau Miang Mulai Tertekan, Sapina Pilih Bertahan Jaga Pesisir Sangkulirang

Jufriadi • Senin, 11 Mei 2026 | 11:58 WIB
Sapina, perempuan asal Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, yang aktif menyuarakan isu lingkungan pesisir dan kondisi laut di wilayahnya. (IST)
Sapina, perempuan asal Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, yang aktif menyuarakan isu lingkungan pesisir dan kondisi laut di wilayahnya. (IST)

 

SANGATTA - Pulau Miang di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim), masih dikenal sebagai salah satu kawasan wisata pesisir dengan laut jernih dan spot mancing yang ramai dikunjungi wisatawan.

Namun di balik keindahan itu, masyarakat mulai merasakan perubahan kondisi laut yang perlahan memengaruhi kehidupan nelayan setempat.

Perubahan itu salah satunya dirasakan Sapina, perempuan muda asal Pulau Miang yang kini aktif menyuarakan persoalan lingkungan di wilayah pesisir tempat ia lahir dan tumbuh.

Menurut Sapina, beberapa tahun terakhir nelayan mulai kesulitan mendapatkan ikan di sekitar perairan pulau. Aktivitas tongkang batu bara dan lalu lintas kapal pengangkut Crude Palm Oil (CPO) disebut menjadi salah satu hal yang dikeluhkan warga karena dianggap memengaruhi kawasan tangkap nelayan.

“Dulu di sekitar dermaga saja masih banyak ikan terlihat. Sekarang mulai susah,” katanya.

Pulau Miang selama ini menggantungkan banyak aktivitas ekonomi dari laut. Selain sebagai nelayan, sebagian warga juga memperoleh penghasilan dari sektor wisata, seperti menyewakan kapal untuk memancing maupun menyediakan penginapan sederhana bagi wisatawan.

Sapina mengatakan hasil tangkapan nelayan saat ini tidak lagi seperti sebelumnya. Beberapa nelayan bahkan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan, sementara biaya operasional terus meningkat.

“Kalau melaut lebih jauh tentu butuh BBM lebih banyak. Belum lagi cuaca dan lalu lintas tongkang di laut,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Bayi Reyhan: Berhasil Operasi UDT Berkat Bantuan Dana Zakat Baznas Kaltim

Selain persoalan hasil tangkapan ikan, warga juga mulai khawatir terhadap kondisi lingkungan pesisir. Aktivitas kapal besar di sekitar kawasan laut disebut membuat sebagian area terumbu karang terganggu akibat aktivitas jangkar kapal.

Kondisi itu mendorong Sapina membentuk Forum Pemerhati Masyarakat Pesisir Sangsaka. Organisasi tersebut dirintis sebagai wadah masyarakat pesisir untuk memantau kondisi lingkungan laut sekaligus menyuarakan persoalan nelayan di Pulau Miang dan sekitarnya.

Ia mengatakan, masyarakat pesisir selama ini lebih sering hanya menjadi penonton terhadap perubahan yang terjadi di wilayah mereka sendiri. “Padahal yang paling merasakan dampaknya masyarakat pesisir,” katanya.

Forum tersebut rencananya akan fokus pada isu perlindungan laut, pengawasan lingkungan pesisir, hingga edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pulau kecil.

Di sisi lain, Pulau Miang sendiri masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur. Akses menuju pulau harus melewati jalur perkebunan sawit dari daratan Sangkulirang sebelum dilanjutkan menggunakan transportasi laut. Fasilitas umum dan layanan penunjang wisata di pulau itu juga masih terbatas.

Baca Juga: Tingkatkan Akses Air Bersih, Bupati PPU Targetkan Cakupan 80 Persen dalam Dua Tahun

Meski demikian, wisatawan tetap datang karena Pulau Miang dinilai memiliki daya tarik alam yang masih alami. Aktivitas memancing dan wisata laut menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat setempat.

Sapina berharap kondisi lingkungan pesisir di Pulau Miang mendapat perhatian lebih serius agar kehidupan masyarakat nelayan tetap bisa bertahan. “Kalau laut rusak, bukan cuma ikan yang hilang. Kehidupan masyarakat pulau juga ikut berubah,” ujarnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#sangkulirang #kutai timur #wisatawan #pulau miang