SANGATTA - Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutai Timur (Kutim), Avivurahman Al Ghazali, menyoroti kondisi ekonomi Kutim yang dinilai masih terlalu bergantung pada sektor tambang dan perkebunan sawit.
Menurutnya, tingginya angka pertumbuhan ekonomi daerah belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan masyarakat. Avivurahman mengatakan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim yang didominasi sektor pertambangan justru menunjukkan ketergantungan besar terhadap aktivitas ekstraktif.
“PDRB 70,17% pada tahun 2025 bukanlah indikator kemakmuran, melainkan monumen kebutaan ekologi. Secara filosofis, ia adalah fatamorgana eksistensial. Kita merayakan angka yang mencerminkan pengerukan, bukan pertumbuhan,” ujarnya, Senin (11/5).
Baca Juga: Pulau Miang Mulai Tertekan, Sapina Pilih Bertahan Jaga Pesisir Sangkulirang
Ia menilai sektor pertambangan dan perkebunan sawit di Kutim sejauh ini belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi daerah.
Menurutnya, investasi yang masuk masih lebih banyak berorientasi pada pengambilan bahan mentah tanpa diikuti penguatan industri hilir di daerah. “Daerah penghasil seharusnya juga mendapat nilai tambah dari investasi yang masuk, bukan hanya menjadi tempat produksi bahan baku,” katanya.
Baca Juga: Kisah Bayi Reyhan: Berhasil Operasi UDT Berkat Bantuan Dana Zakat Baznas Kaltim
Selain itu, Avivurahman juga menyoroti kondisi infrastruktur dasar di sejumlah wilayah pedesaan yang dinilai masih belum mendapat perhatian maksimal. Ia menilai program tanggung jawab sosial perusahaan semestinya lebih diarahkan untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat.
“Masih banyak jalan desa dan fasilitas masyarakat yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung posisi perusahaan daerah atau Perseroda yang dinilai perlu diperkuat agar benar-benar mampu mendukung kemandirian ekonomi daerah, bukan hanya menjadi pelengkap administrasi.
Menurut Avivurahman, pemerintah daerah perlu mulai memikirkan model pembangunan ekonomi yang tidak hanya bergantung pada sektor ekstraktif, tetapi juga memperkuat sektor produktif dan hilirisasi industri di Kutai Timur.
“Kita perlu memikirkan keberlanjutan ekonomi daerah dalam jangka panjang,” katanya. (*)
Editor : Sukri Sikki