SANGATTA - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) masih melakukan verifikasi terhadap ribuan data Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut. Dari total 10.112 data ATS yang tercatat, sebanyak 5.531 data telah diverifikasi, sedangkan 4.579 lainnya masih dalam proses pendataan ulang.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikbud Kutim, Heri Purwanto mengatakan, penanganan ATS tidak hanya berfokus pada validasi data, tetapi juga upaya mengembalikan anak-anak ke layanan pendidikan.
"Yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan mereka ke sekolah, baik melalui jalur formal maupun non-formal," ujar Heri, Selasa (12/5).
Menurut dia, Disdikbud bekerja sama dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk melakukan pendataan sekaligus membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang belum bersekolah.
Sistem jemput bola diterapkan dengan membuka kelompok belajar di sejumlah wilayah yang sulit menjangkau layanan pendidikan nonformal, seperti Sandaran, Kaliorang, dan Kaubun.
Selain persoalan akses pendidikan, Disdikbud juga menemukan ribuan data ATS yang tidak ditemukan saat diverifikasi di lapangan. Temuan itu diperoleh setelah dilakukan pemadanan data bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).
Heri menyebut, sekitar 2.000 data ATS tidak ditemukan keberadaannya. Salah satu kasus terjadi di Desa Sukarahmat. Dari 161 data ATS yang tercatat, sebanyak 108 anak tidak ditemukan saat proses verifikasi langsung dilakukan.
"Data-data yang tidak ditemukan ini sudah kami sampaikan ke Pusdatin dan dikoordinasikan dengan Dirjen Adminduk agar tidak menjadi beban statistik bagi Kutai Timur," tambahnya.
Penanganan ATS di Kutim melibatkan sejumlah instansi, mulai dari Bappeda, DPMDes, Disdukcapil, Dinas Sosial, hingga organisasi profesi dan PKK. Selain pendidikan kesetaraan, program tersebut juga diarahkan pada pemberian keterampilan usaha bagi peserta didik.
Heri berharap koordinasi lintas instansi dapat mempercepat penurunan angka ATS di Kutim dan memperluas pemerataan layanan pendidikan hingga akhir tahun. (*)
Editor : Ismet Rifani