KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Ritual adat Belian Semegah yang menjadi tradisi masyarakat Kutai di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), selangkah lagi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.
Usulan tersebut telah melalui verifikasi lapangan oleh tim dari Kementerian Kebudayaan dan kini memasuki tahap penilaian. Belian Semegah merupakan ritual adat yang digelar setiap tahun dalam rangkaian Festival Sekerat Nusantara.
Baca Juga: Kutim Babak Belur Dihantam Kebijakan Pusat, Akademisi Soroti Ancaman Fiskal hingga PHK
Prosesi berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan tahapan ritual yang berbeda di setiap malamnya. Kepala Desa Sekerat, Sunan Dhika, mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat. "Belian ini warisan leluhur yang sampai sekarang masih kami lestarikan," ujarnya.
Baca Juga: Curi Motor di Sangkulirang, Pria Ini Bekuk di Balikpapan
Menurut dia, ritual tersebut juga menjadi identitas budaya sekaligus pembeda Desa Sekerat sebagai destinasi wisata di Kutim. Proses pengusulan Belian Semegah sebagai WBTb Indonesia pun terus berjalan.
Tim Kementerian Kebudayaan telah melakukan verifikasi, sementara usulan tersebut telah dibahas dalam sidang penetapan. "Sudah diverifikasi dan disidangkan. Mudah-mudahan bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda," katanya.
Warisan Budaya Tak Benda merupakan kekayaan budaya yang tidak berwujud fisik, seperti tradisi, seni, ritual, pengetahuan, maupun keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan oleh masyarakat.
Sunan menjelaskan, pemerintah desa juga berupaya memastikan tradisi tersebut tetap hidup di kalangan generasi muda. Salah satunya dengan melibatkan mereka secara langsung dalam setiap pelaksanaan ritual.
"Anak-anak muda kami libatkan agar mereka mengenal dan ikut menjaga tradisi ini," ucapnya.
Baca Juga: Sudah Tembus 87 Persen! Ini Daftar Seksi Tol IKN yang Rampung dan Titik Krusial yang Jadi Kendala
Meski demikian, ia mengakui tantangan pelestarian budaya semakin besar karena minat generasi muda terhadap tradisi mulai berkurang. Karena itu, pemerintah desa berupaya mengemas penyelenggaraan festival agar lebih menarik tanpa menghilangkan nilai adat yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, setiap malam dalam ritual Belian Semegah memiliki makna dan tahapan yang berbeda. Konsep pengembangan wisata budaya pun harus tetap menghormati kesakralan tradisi tersebut.
"Kami ingin kemasannya lebih menarik, tetapi nilai sakralnya tidak boleh hilang," tegasnya.
Ke depan, Belian Semegah diharapkan menjadi kekuatan utama pengembangan pariwisata Desa Sekerat. Selain memiliki kawasan pantai, desa tersebut ingin menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya yang tidak dimiliki daerah lain.
Salah satu prosesi penting dalam ritual ini adalah Mengolor Perahu Naga, yakni prosesi membawa simbol bala atau malapetaka dari daratan menuju laut sebagai doa agar kampung senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.
Menurut Sunan, kekuatan adat dan budaya inilah yang akan terus dipertahankan sebagai identitas Desa Sekerat sekaligus daya tarik wisata di Kutim. (*)
Editor : Sukri Sikki