KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Malam di pesisir Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim) berubah khidmat saat denting gamelan, bunyi gong, dan tabuhan kendang memecah sunyi, Minggu (5/7).
Di sela debur ombak Pantai Sekerat yang hanya berjarak selemparan batu dari Lamin Adat, puluhan warga dari berbagai usia larut menyaksikan dimulainya ritual Belian Semega, pembuka rangkaian Festival Sekerat Nusantara.
Aroma dupa yang terus mengepul memenuhi ruangan. Mantra-mantra terus dikumandangkan. Para tetua adat duduk mengelilingi perlengkapan ritual, sementara alunan musik tradisional mengiringi setiap prosesi. Ritual dimulai sekitar pukul 21.00 dan berlangsung hingga menjelang subuh.
Baca Juga: Disorot DPRD Kutim karena Mangkir Rapat, Bupati Sebut Ketua TAPD Sedang Jalankan Tugas Lain
Belian Semega menjadi tahapan penting sebelum puncak Festival Sekerat Nusantara pada 12 Juli mendatang. Dalam kepercayaan masyarakat Kutai di Sekerat, ritual ini merupakan prosesi mengundang para dewa untuk menentukan raja bumi, laut, dan langit yang akan memimpin Ritual Mengolor Perahu Naga.
Mengolor Perahu Naga sendiri merupakan tradisi sakral yang melambangkan pelepasan bala atau malapetaka dari daratan menuju laut. Prosesi tersebut dipanjatkan sebagai doa agar kampung senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari segala marabahaya.
Panitia pelaksana Muhammad Yafi Akbar menjelaskan, berbagai perlengkapan ritual telah dipersiapkan secara khusus sebelum prosesi dimulai. Salah satunya balai bertingkat yang menjadi tempat berkumpulnya para dewa dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Baca Juga: Bejat, Rudapaksa Dua Putri Kandung Selama Bertahun-tahun, Ayah di Kutai Timur Akhirnya Ditangkap
"Balai itu ada tujuh tingkatan sebagai tempat para dewa berkumpul. Kami juga menyiapkan sesajen sebagai bagian dari ritual mengundang mereka," ujarnya.
Menurut dia, Belian Semega menjadi tahapan awal sebelum pelaksanaan Mengolor Perahu Naga pada puncak Festival Sekerat Nusantara.
"Malam ini kami mengundang para dewa untuk menunjuk raja yang akan memimpin prosesi Mengolor Naga nanti," katanya.
Ia menjelaskan, siapa yang terpilih sebagai raja dalam ritual tersebut tidak diketahui oleh panitia karena menjadi bagian dari prosesi adat yang hanya dipahami para tetua.
"Yang mengetahui proses penunjukannya adalah para sesepuh. Itu bagian dari rahasia adat," tutupnya. (*)
Editor : Duito Susanto