KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Kemunculan buaya di sejumlah wilayah pesisir Kutai Timur (Kutim) tidak hanya menimbulkan kekhawatiran warga, tetapi juga berdampak pada sektor pariwisata.
Sejumlah destinasi pantai kini dipasangi papan peringatan waspada buaya setelah beberapa kali dilaporkan terjadi kemunculan satwa tersebut di sekitar kawasan wisata.
Baca Juga: Akses Jalan Menuju Pantai Sekerat di Kutim Masih Jadi Hambatan Pengembangan Objek Wisata
Fenomena itu menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain karena pernah menimbulkan korban luka hingga meninggal dunia, kemunculan buaya di sekitar permukiman dan kawasan wisata dinilai berkaitan dengan semakin berkurangnya habitat alami satwa tersebut.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan, Pemerintah Daerah telah meminta langkah penanganan kepada pemerintah Provinsi terkait untuk mengendalikan populasi buaya yang kerap muncul di area aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Empat Tradisi Kutim Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Nasional
Menurut Mahyunadi, meningkatnya interaksi antara buaya dan manusia tidak terlepas dari perubahan lingkungan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Habitat alami yang dulunya menjadi tempat hidup buaya perlahan berkurang akibat alih fungsi lahan.
Ia menuturkan, pada masa lalu buaya lebih banyak berada di kawasan rawa dan jarang memasuki wilayah yang menjadi tempat aktivitas masyarakat. Namun kondisi tersebut berubah seiring menyusutnya habitat alami.
"Karena pada saat dulu buaya ada habitatnya. Di rawa-rawa ditinggal. Itu kan bukan buaya sungai. Buaya rawa, dia tinggal di rawa-rawa," katanya.
Baca Juga: GAPKI Kaltim Bidik Nilai Tambah Lewat Hilirisasi Sawit
Selain kehilangan habitat, berkurangnya sumber pakan alami juga disebut menjadi faktor yang mendorong buaya semakin sering muncul di sekitar sungai, pantai, hingga permukiman warga.
"Begitu habitatnya diambil oleh masyarakat, oleh manusia jadikan sawit dan sebagainya, maka mereka pindah ke sungai. Hilang habitatnya," lanjutnya.
Mahyunadi menjelaskan, pada masa lalu populasi satwa mangsa seperti monyet dan babi hutan masih melimpah sehingga kebutuhan pakan buaya tercukupi. Kondisi tersebut membuat konflik antara manusia dan buaya relatif jarang terjadi.
"Saat sekarang buaya jadi ganas karena dia kehilangan makanan sumber makanannya. Dia kehilangan habitat dan makanan," ujarnya.
Di sejumlah destinasi wisata pantai di Kutim, papan peringatan waspada buaya kini terpasang untuk mengingatkan pengunjung. Pantai Teluk Lombok menjadi salah satu lokasi yang beberapa kali dilaporkan terdapat kemunculan buaya.
Sementara di Pantai Sekerat juga telah dipasang peringatan meski belum terdapat laporan kemunculan satwa tersebut. Pemerintah Kutim sendiri berencana membangun penangkaran buaya sebagai bagian dari program penanganan konflik satwa liar.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi potensi interaksi antara buaya dan manusia di wilayah Kutim.
Mahyunadi juga mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan karena kerusakan habitat dan pencemaran dinilai turut memperburuk kondisi ekosistem satwa liar.
"Saya mengajak seluruh masyarakat untuk melestarikan lingkungan, jaga kebersihan, terutama yang di pantai," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki