KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kerusakan terjadi di ruas jalan nasional yang berada di antara Desa Sepaso Timur dan Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat karena jalan itu menjadi satu-satunya akses menuju sejumlah kecamatan di wilayah pesisir utara Kutim.
Warga menyebut kerusakan paling mengkhawatirkan berada di Jembatan Lembak. Struktur jembatan yang diperkirakan telah berusia lebih dari empat dekade itu mengalami penurunan pada bagian sambungan dengan badan jalan. Akibatnya, permukaan jalan di sisi jembatan turun hingga sekitar setengah meter.
Baca Juga: Cegah Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pelajar, Satgas TMMD 129 Kodim 0904/Paser Gelar Penyuluhan
Salah seorang warga Bengalon, Afi mengatakan, kerusakan tersebut sudah beberapa kali menjadi sorotan masyarakat. Namun, penanganan yang dilakukan sejauh ini dinilai belum permanen.
"Kondisi jalan badan nasional yang berada di antara Desa Sepaso Timur dengan Desa Sepaso ini sudah beberapa kali viral karena jembatan itu sudah retak," ujarnya, Jumat (7/8).
Menurut dia, penurunan terjadi pada bagian sambungan pondasi jembatan sehingga badan jalan ikut ambles. Sekitar sebulan lalu, kerusakan sempat diperbaiki dengan penimbunan. Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama.
"Sebulan lalu sudah ditambal, tapi hanya ditambal saja, tidak permanen. Baru satu bulan, jalannya turun lagi, bahkan lebih parah sekarang," katanya.
Afi menjelaskan, Jembatan Lembak merupakan jalur vital yang menghubungkan Kecamatan Bengalon dengan Kecamatan Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, Karangan, Sandaran hingga akses menuju Kabupaten Berau.
Karena menjadi satu-satunya jalur darat, kerusakan jalan dinilai berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.
Ia menyebut kecelakaan juga kerap terjadi di lokasi tersebut. Pengendara sepeda motor disebut beberapa kali terjatuh akibat perbedaan tinggi badan jalan yang cukup dalam.
"Sering ada ibu-ibu jatuh motor saat mengantar anak sekolah. Sudah beberapa kali terjadi kecelakaan di situ," ucapnya.
Masyarakat berharap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional segera melakukan perbaikan permanen sebelum kerusakan semakin parah.
"Jangan sampai kondisinya ambruk dan memakan korban. Kalau sampai ambruk, lima kecamatan bisa lumpuh total, termasuk aktivitas tambang, pertanian, perkebunan, sampai akses menuju Berau," tegasnya.
Berdasarkan informasi warga yang telah lama menetap di Bengalon, Jembatan Lembak dibangun pada kisaran tahun 1985 hingga 1987 dan kini diperkirakan telah berusia sekitar 42 tahun. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional terkait rencana penanganan kerusakan tersebut. (*)
Editor : Sukri Sikki