Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Jalan hingga Laut Dikepung Debu, Kades Sekerat Minta Pemerintah dan Perusahaan Bertindak

Jufriadi
Penulis: Jufriadi❯
Aktivitas perusahaan batu bara di kawasan pesisir Sekerat, Bengalon, Kutai Timur, menimbulkan debu dan terbawa angin hingga ke permukiman. (IST)
Aktivitas perusahaan batu bara di kawasan pesisir Sekerat, Bengalon, Kutai Timur, menimbulkan debu dan terbawa angin hingga ke permukiman. (IST)

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Debu kembali menjadi persoalan bagi masyarakat Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Dalam beberapa waktu terakhir, debu batu bara disebut terlihat cukup parah pada siang hari, bersamaan dengan kondisi kemarau yang membuat jalan semakin kering.

Kepala Desa Sekerat Sunandika mengatakan, wilayahnya hampir dua bulan tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut membuat debu dari aktivitas kendaraan semakin mudah beterbangan.

Advertisement

“Kurang lebih dua bulan terakhir wilayah kami hampir tidak diguyur hujan. Kondisi ini menyebabkan debu jalan semakin parah,” kata Sunandika dalam keterangannya, Kamis (3/9).

Dari sekitar 23 kilometer jalan menuju Desa Sekerat, sekitar 18 kilometer di antaranya masih belum dilakukan semenisasi. Debu semakin terasa ketika kendaraan melintas di jalan yang belum diperkeras.

Advertisement

Selain dari darat, aktivitas batu bara di sekitar pesisir juga menjadi perhatian. Sejumlah perusahaan memiliki aktivitas conveyor dan kegiatan batu bara di kawasan tersebut. “Ketika angin kencang, debu batu bara dapat beterbangan dan dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sunandika menyebut persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Ia berharap pengendalian debu dari aktivitas perusahaan diperketat, termasuk pemantauan kualitas udara di sekitar permukiman.

Pemerintah desa juga menyoroti aktivitas batu bara di laut. Masyarakat, kata dia, melihat adanya material yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan dan masuk ke perairan.

“Di laut, masyarakat juga melihat adanya material batu bara yang diduga jatuh atau tercecer dari aktivitas perusahaan dan masuk ke perairan,” katanya.

Ia juga mempertanyakan alat pemantau kualitas udara yang sebelumnya pernah ditempatkan di sekitar Desa Sekerat. Menurutnya, alat tersebut perlu lebih aktif digunakan saat musim kemarau. “Kami ingin mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi udara yang setiap hari kami hirup,” katanya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Panduan Praktis Merawat Bagasi Mobil agar Bebas Jamur dan Karat

Panduan Praktis Merawat Bagasi Mobil agar Bebas Jamur dan Karat

Simak panduan praktis merawat bagasi mobil agar bersih, bebas bau apek, dan terhindar dari ancaman karat plat bodi serta rembesan air.

Debu Diduga dari Area Aktivitas Tambang, Pengguna Jalan Poros Sangatta–Bengalon Mengeluh

Debu Diduga dari Area Aktivitas Tambang, Pengguna Jalan Poros Sangatta–Bengalon Mengeluh

Debu kembali menjadi keluhan pengguna Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kutai Timur (Kutim).

Hujan Debu Kilang Pertamina: Sampel Udara hingga Debu Mengendap di Tiga Kelurahan Diuji

Hujan Debu Kilang Pertamina: Sampel Udara hingga Debu Mengendap di Tiga Kelurahan Diuji

Fenomena hujan debu akibat aktivitas commissioning PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) pekan lalu akhirnya memasuki babak baru.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer