KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Sebanyak 297 tenaga pendidik asal Kutai Timur (Kutim) menyelesaikan pendidikan Magister (S2) Pendidikan Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka merupakan peserta program Beasiswa Indonesia Emas Daerah (BIMED) melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Para lulusan tersebut merupakan angkatan kedua program kerja sama Pemkab Kutim dengan UNY. Sebanyak 300 guru dikirim untuk mengikuti program tersebut pada 2025. Namun, tiga peserta tidak dapat menyelesaikan pendidikan hingga wisuda.
Baca Juga: Karhutla Lalap 5 Hektare Belukar di Sangatta Utara, Padam Setelah 5 Jam
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono mengatakan tiga peserta tersebut terdiri dari satu orang meninggal dunia, satu orang terkendala kondisi kesehatan, dan satu lainnya mengalami permasalahan sehingga tidak dapat menyelesaikan studi.
"Tahun 2025 kemarin kita kirim sebanyak 300 orang. Nah, tapi yang lulus ini ada agak berkurang, ada tiga orang yang tidak bisa lulus," ungkapnya.
Baca Juga: Produksi Pisang Kaltim Turun 29,73 Ribu Ton, Wilayah Ini Jadi Penopang Utama
Dengan demikian, 297 peserta lainnya mengikuti wisuda yang berlangsung di Gedung Dakir Lantai 3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNY, Sabtu (22/8).
Mulyono mengatakan, program S2 Pendidikan Inklusi melalui RPL telah berjalan sejak 2024. Angkatan pertama diikuti 191 guru dan seluruhnya dinyatakan lulus pada 2025.
"Program ini adalah untuk gelombang kedua atau angkatan kedua. Karena angkatan pertama kemarin yang kita mulai sejak tahun 2024, itu kita kuliahkan sebanyak 191 orang dan alhamdulillah semuanya lulus 100 persen di tahun 2025," jelas Mulyono.
Baca Juga: Balikpapan Resmi Terapkan CFD Tiap Minggu, Ini Daftar Lokasi di 6 Kecamatan
Menurut dia, program tersebut masih akan dilanjutkan. Pemkab Kutim menyiapkan sekitar 300 guru untuk mengikuti program pada angkatan ketiga tahun ini.
"Dan tahun ini juga kita lanjutkan, kita kirim lagi sekitar 300 orang. Karena program ini bertujuan nanti dari 702 sekolah yang ada di Kutai Timur, dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP itu minimal punya satu guru inklusi," tutupnya.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusi di sekolah-sekolah Kutim. Pemkab menargetkan setiap sekolah memiliki setidaknya satu guru yang dapat menangani kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. (*)
Editor : Sukri Sikki