KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Musim kemarau yang berlangsung sekitar sebulan terakhir mulai mengancam sektor pertanian di Kutai Timur (Kutim). Petani yang baru memasuki masa tanam menjadi kelompok paling rentan karena tanaman membutuhkan pasokan air pada fase awal pertumbuhan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim Purno Edi mengatakan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal panen jika kekeringan terus berlanjut.
"Kalau setelah tanam itu memang butuhnya untuk pertumbuhan terlebih dahulu, tapi kalau dari awal ini di satu bulan pertama ini kering, ini kita juga berisiko gagal panen," kata Purno.
Baca Juga: Desak Kemendagri Tegaskan Arah Kebijakan PPPK, FORTEKIN: Jangan Biarkan Daerah Menafsirkan Sendiri
Menurutnya, ancaman kekeringan menjadi salah satu dampak perubahan iklim yang kini mulai dirasakan langsung oleh sektor pertanian. Hingga kini, DTPHP Kutim masih mengumpulkan data terkait luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Pendataan dilakukan untuk mengetahui tingkat dampak kemarau terhadap tanaman yang baru memasuki masa pertumbuhan.
DTPHP Kutim sebelumnya telah menyalurkan bantuan pompa air dari pemerintah pusat maupun daerah kepada petani. Bantuan tersebut diharapkan membantu petani mengairi lahan saat curah hujan menurun.
Namun, persoalan yang dihadapi saat ini bukan hanya ketersediaan pompa. Sumber air untuk mengoperasikan sarana irigasi tersebut juga mulai terbatas akibat kemarau berkepanjangan.
"Itu kan baru tanam, kemarin tanam bersama, habis itu sudah kekeringan, itu kasihan banget. Sekarang pertanyaannya bukan masalah pompa airnya atau sarananya, tapi sumber airnya," terangnya.
Pemerintah daerah kini menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk perusahaan swasta, untuk mencari solusi atas keterbatasan sumber air.
Selain itu, pembangunan embung di sejumlah kecamatan juga menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan air bagi pertanian. Meski demikian, keberadaan embung belum sepenuhnya mampu mengatasi dampak kekeringan apabila musim tanpa hujan berlangsung lebih lama.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau Kering Berlanjut Hingga September 2026, Ini Wilayahnya
Purno mengakui kemampuan manusia dalam menghadapi perubahan kondisi alam memiliki keterbatasan. Pemerintah, kata dia, tetap berupaya menyediakan sarana pendukung bagi petani sambil mencari solusi terhadap persoalan ketersediaan air.
"Kemampuan manusia kembali ke kemampuan, dan faktor alam ini akan berbeda. Kalau tidak ada hujan, upaya kita untuk memenuhi sarana kita lakukan, tapi kita juga berbicara lagi dengan kondisi alam," tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki