BPBD Kutim Temukan Karhutla Berulang di Lokasi Sama, Ada Unsur Kesengajaan

Jufriadi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:57 WIB
Kepala BPBD Kutim Sulastin (kiri). Jufriadi/KP
Kepala BPBD Kutim Sulastin (kiri). Jufriadi/KP

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Timur (Kutim) dinilai tidak seluruhnya terjadi karena faktor alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim menyebut aktivitas manusia, terutama pembakaran lahan, menjadi salah satu pemicu yang masih ditemukan di lapangan.

Kepala BPBD Kutim Sulastin mengatakan, terdapat sejumlah lokasi yang berulang kali mengalami kebakaran. Kondisi itu ditemukan di wilayah Sangatta Selatan dan Sangatta Utara.

"Kebakaran hutan dan lahan ini banyak terjadi oleh manusia. Contohnya di Sangatta Selatan dan Sangatta Utara itu berkali-kali di tempat itu saja," ujar Sulastin saat ditemui usai rapat koordinasi, Senin (7/9).

Menurut Sulastin, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman. Jika kebakaran terbukti disebabkan oleh pembakaran yang disengaja, proses penindakan terhadap pelaku juga perlu dilakukan untuk mencegah kejadian berulang.

Baca Juga: Tekan Harga Pangan di Desa, Dinas Ketahanan Pangan Paser Luncurkan Program RODA PANGAN

"Ternyata dari Kapolri dan Kejaksaan Agung mempertegas, berarti ada tindakan. Kita sudah kolaborasi dengan Polres, Kejaksaan, dan Dandim," ungkapnya.

Koordinasi dengan aparat penegak hukum dilakukan untuk menindaklanjuti laporan kebakaran yang ditemukan di lapangan. Unsur kesengajaan maupun pelanggaran aturan akan menjadi bagian dari penanganan apabila ditemukan indikasi pembakaran oleh manusia.

"Akan kita tindaklanjuti, karena tadi sudah jelas kan undang-undangnya, pasalnya, apa segala macam," tegas Sulastin.

Di sisi lain, jumlah kejadian karhutla secara kumulatif masih cukup tinggi. BPBD Kutim mencatat sekitar 81 titik kebakaran sejak awal Agustus hingga 7 September 2026. Namun, perkembangan titik api dalam beberapa hari terakhir menunjukkan penurunan.

Baca Juga: Latih Barista Lokal di Cafe Vintage, Kubar Siapkan Layanan Kopi Berkelas

Sulastin menyebut pada awal periode kemarau, titik api yang ditemukan dalam sehari sempat mencapai lima lokasi. Belakangan, jumlah tersebut berkurang dan penanganan di lapangan relatif lebih terkendali. "Kalau awal-awalnya itu sampai ada lima titik. Tapi berkali-kali berikut ini sudah berkurang," katanya.

Dalam laporan terakhir, satu titik api sempat ditemukan di Sangatta Selatan, sementara Sangatta Utara tidak terdapat laporan kebakaran. Laporan dari sejumlah kecamatan lainnya juga nihil pada hari sebelumnya.

"Kemarin juga sudah hanya satu titik di Sangatta Selatan, Sangatta Utara nihil. Laporan dari kecamatan alhamdulillah kemarin nihil, hari ini kita masih belum ada informasi," tuturnya.

Meski tren menurun, BPBD tetap melakukan pemantauan melalui data titik panas dan laporan dari petugas maupun pemerintah kecamatan. Data tersebut digunakan untuk menentukan langkah apabila kembali ditemukan kebakaran. "Titik panas kita sampai dengan hari ini itu 57 dalam kondisi sedang," jelas Sulastin.

BPBD mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan selama kondisi kemarau. Laporan mengenai titik api juga diminta segera disampaikan agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
BPBD Kutim Karhutla di Kutim Kebakaran Lahan Sangatta Sulastin Berita Kutai Timur