Pesona Puncak Karst Batu Putih Kutim, Magnet Camping Baru yang Dikelola Swadaya Pemuda

Jufriadi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:50 WIB
INDAH: Puncak karst Batu Putih di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur. IST/KP
INDAH: Puncak karst Batu Putih di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur. IST/KP

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Pesona puncak karst Batu Putih di Kecamatan Kaliorang belakangan kian menyedot perhatian para pegiat alam terbuka di Kutai Timur (Kutim).

Gugusan bebatuan karst berketinggian 720 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut kini menjadi magnet baru bagi warga yang ingin bermalam menikmati panorama atap Kutim.

Keramaian pengunjung setiap akhir pekan membawa berkah ekonomi bagi pemuda setempat yang terhimpun dalam komunitas Kaliorang Cinta Alam (Karca). Mereka aktif menawarkan jasa pemanduan bagi para pelancong yang hendak berkemah menyusuri jalur perbukitan kapur tersebut.

Ketua Karca Kutim, Samsul Bahri, mengungkapkan bahwa inisiatif mandiri ini mampu menghasilkan pemasukan tambahan bagi para anggotanya. Dalam rentang sepekan, mereka bisa meraup keuntungan lebih dari Rp500 ribu dari mengawal rombongan wisatawan.

Baca Juga: Balikpapan Dapat Tambahan 1.250 KL Pertalite, 5 SPBU Baru Beroperasi 17 September

"Tiap minggunya kami dapatkan keuntungan lebih Rp500 ribu sebagai pemandu wisatawan yang mau camping atau berlibur di puncak karst batu putih," tutur Samsul.

Meski perputaran rupiahnya mulai terasa, Samsul menyayangkan kawasan potensial ini belum tersentuh perhatian pemerintah daerah. Hingga sekarang, belum ada regulasi resmi maupun keterlibatan instansi terkait untuk menata jalur pendakian tersebut menjadi destinasi unggulan.

Kondisi tanpa legalitas dan manajemen baku itu membuat operasional Karca Kutim murni berjalan secara swadaya. Samsul mengaku penghasilan kelompoknya sangat fluktuatif karena hanya mengandalkan inisiatif pendaki yang menghubungi mereka secara langsung.

"Kalau tidak ada yang menghubungi kami, ya tidak ada pemasukan untuk teman-teman. Sebab memang belum ada konsep resmi untuk pendakian itu," keluhnya.

Baca Juga: Pasokan Air Bersih Samarinda Berangsur Normal, Intrusi Air Asin Sisa di IPA Bantuas

Ia sangat mendambakan penataan karst Batu Putih bisa mencontoh pengelolaan gunung-gunung wisata di Pulau Jawa. Pola manajemen yang tertata diyakini mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar tanpa merusak ekosistem dan keaslian bentang alam karst.

Ketiadaan tata kelola profesional ini juga dirasakan langsung oleh kalangan wisatawan. Salah seorang pengunjung, Yusril, mengutarakan kekecewaannya saat mendapati minimnya sistem informasi dan pos pendaftaran di lokasi pendakian.

Ia mengaku sempat kebingungan mencari akses pemandu karena tidak adanya prosedur registrasi yang terpusat. Kondisi tersebut dinilainya jauh berbeda dibanding wisata gunung di Jawa yang mewajibkan tiket resmi serta pendampingan pemandu berlisensi demi keselamatan.

Yusril berharap pemerintah daerah segera turun tangan membenahi sistem pendakian di karst Batu Putih. "Pengelolaan yang tertib tidak hanya menjamin keselamatan dan kenyamanan pendaki, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan karst dari ancaman kerusakan," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Berita Sangatta Karst Batu Putih Wisata Kutai Timur Kaliorang pariwisata Kaltim